Sementara “Pulanglah… Ini Rumahmu” menghadirkan Ambon secara luas melalui Teluk Ambon, Leitimur, Sirimau, laut, pasar, Jembatan Merah Putih, tifa, ukulele, pela gandong, sagu dan kapata. Motif “pulang” menjadi benang merah yang mengikat identitas kota dengan generasi mudanya.
“Aku Mencintaimu” tampil melalui pendekatan romantik terhadap Ambon. Laut, pantai, pasir, ombak, karang, penyu, teripang, morea, angin dan nyiur menjadi metafora cinta yang kemudian berkembang menjadi pesan persaudaraan dan toleransi.
Sedangkan “Ambon dalam Kata dan Cinta” dinilai kuat karena kesederhanaan bahasa, kehangatan serta kedekatannya dengan pengalaman orang Ambon, terutama gagasan tentang rumah dan kerinduan bagi mereka yang berada jauh dari tanah kelahiran.
Adapun “Asa Ku, Maluku” menonjol melalui semangat optimisme dan kecintaan terhadap Maluku. Laut, mata air, bukit, cengkeh, pala, lola, mutiara, sagu, gamutu dan Gunung Binaiya menjadi bagian dari lanskap yang digunakan penyair untuk menyampaikan harapan.
Secara umum, dewan juri menilai keenam puisi favorit tersebut memperlihatkan keberagaman cara memaknai Ambon dan Maluku.
Ada yang menemukan Ambon melalui laut dan persaudaraan, ada yang melalui adat dan pamali, kerinduan untuk pulang, cinta dan toleransi, pengalaman personal, hingga harapan terhadap masa depan Maluku.





