“Senja di Kaki Gunung Sirimau” Menang Lewat Kesederhanaan
Puisi “Senja di Kaki Gunung Sirimau” karya Marianna Claartje Nussy dinilai memiliki kekuatan utama dalam menghadirkan Ambon sebagai ruang hidup yang konkret, dekat dan akrab.
Ambon tidak dijelaskan secara konseptual, tetapi hadir melalui pengalaman keseharian: aroma kopi, sagu bakar, ikan asar, colo-colo, papeda, kuah ikan kuning, pala, cengkeh, sageru, suara tifa dan jukulele, pancuran di belakang rumah hingga Gunung Sirimau.
Bagi dewan juri, rangkaian pengalaman tersebut membuat Ambon tampil bukan sekadar sebagai nama sebuah kota, melainkan sebagai rumah, keluarga, tradisi, kuliner, bunyi, aroma, alam dan kenangan.
Penggunaan bahasa Melayu Ambon juga menjadi salah satu kekuatan puisi. Kata-kata seperti “beta”, “seng”, “bataria”, “biking”, “talalu sadap”, “dapa lia” dan “pono” dinilai hadir secara natural sebagai bagian dari suara penyair.
Puisi bergerak dari suasana senja dan angin, masuk ke ruang rumah dan meja makan, kemudian melebar kepada lanskap alam dan musik tradisional, sebelum berakhir dalam suasana kesunyian dan kerinduan.
Bait penutup, “Banyak rindu yang seng sampe”, dinilai menjadi simpul emosional yang kuat. Rindu tidak lagi hanya menjadi perasaan personal, tetapi dapat dibaca sebagai kerinduan terhadap rumah, keluarga, kampung dan kota.





