Tiga Puisi Wirol Haurissa

oleh -93 views
Link Banner

PINTU JENDELA

Saya sedang mencari sesuatu di dekat akar pohon besar dekat pantai, kira kira empat meter menyentuh air laut. Kata beberapa orang, pohon besar itu telah menjadi tempat berteduh sejenak. Ada musik didengar lambat dan kencang yang keluar dari ombak biru begitu terang.

Saya pikir, orang tua berbicara bersama tete ruga. Mereka bernyanyi dari tahun-tahun yang masih berangin. Hujan tidak lagi turun, sebuah tanda bunga cengkih akan membentuk tubuhnya. Bunga pertama, bau pala, kopra, asapnya ke rumah-rumah.

Saya tahu pada saat yang bersamaan. Ada seorang ibu dengan rela memberi miliknya, entah itu rahimnya atau payudaranya. Semua anak menyusui dari sana seperti sebuah pengetahuan dan generasi. Tibalah di altar bersama bangau yang sayapnya menyala.

Baca Juga  Menikah Lagi Tanpa Izin Istri, Oknum Pejabat Disdikbud Halsel Bakal Dipolisikan

Di antara daun-daun, sinar pagi turun melewati celah rantingnya membentuk bayangan. Sementara pada malam, saya selalu melihat bintang-bintang keluar dan berbaris di atas rindangnya.

Ada juga bulan berwarna putih, sebuah pemandangan dan ingatan. Pohon besar bersama lautan bercahaya. Saya memuji keindahan di antara ribuan pasir di atas pulau yang membuat rindu menjadi tinggi seperti mimpi.

Sekarang, saya sedang berada di samping pohon di potret itu. Melihat pintu-pintu terbuka dengan jendela-jendela yang besar. Semua yang pernah tinggal terangkat ke matahari menjadi teman sampai awal senja lalu hari seperti biasanya. manis

Salam dari Mayau

12 Oktober 2021

=======

BASOMA

pada pagi sesudah nelayan menenun jaring dengan jemarinya yang asin. suara ombak dan angin bertahan di udara. cahaya matahari di antara karang, membuat ikan-ikan bahagia melompat ke perahu.

Baca Juga  Album Baru NCT Masuk Daftar Billboard 200

beberapa pria berjalan di atas kulit air mendekati daratan. lah kata orang tua rambut putih; saatnya angkatlah ikan-ikan sepanjang musim panas. seluruh laut mengikuti arus, mengikuti firman tuhan ke pantai yang tersentuh lagu, jaring, kata-kata kail, gereja dan doa.

Mayau, 7 Oktober 2021

======

MA(N)YAU

beginilah memandang
gamalama delapan tahun berlalu
sebuah puisi dibacakan
di antara batu-batu teras
berbunga hijau.

udara terbentang di tanah
tuhan meletakan jemarinya
sejuk seperti air laut batang dua
angin meniup ke utara
bunga-bunga mekar di atap rumah

awan-awan tergantung seperti permen.
aku pikir semua orang merasakannya, manis.

dan saat malam begini
pelayaran kembali bersama angin sepoi-sepoi.
sampai mayau, air biru kembali dibawa ombak. berirama.

Baca Juga  Kepsek SMPN 4 Ambon bantah terjadi pungli

Ternate, 26 September 2021
wirolhaurissa

No More Posts Available.

No more pages to load.