Tapi Sekarang Langit Terlalu Kabur
Di sini
langit masih bercerita
laut masih bersaksi
dan tanah masih berdoa
tapi siapa hari ini
yang benar-benar mendengarkan?
Langit di atas kepala kami
dulu adalah buku
leluhur kami menulis
setiap peristiwa dengan awan
menandai musim pulang
dengan gugusan bintang-bintang
tapi sekarang langit terlalu kabur
sebab asap yang naik ke langit
tak sekadar asap
dan laut yang dulu tenang
kini bicara dengan gelombang
tuba-tuba dilempar ke terumbu
kapal-kapal asing masuk tanpa salam
dan anak-anak
yang dulu berenang sambil tertawa
kini bermain di pasir hitam
mencari-cari ikan
yang dulu datang sendiri
sebab lubang-lubang tambang
di tubuhnya
telah menghisap sejarah kami
harap kami
hak hidup kami.
Dulu
kami cium tanah ini
dengan penuh hormat
tapi hari ini, hormat kami
dihitung sebagai tonase
mereka bilang ini kemajuan
tapi kemajuan macam apa
yang membuat langit kehilangan birunya
laut kehilangan nadinya
tanah kehilangan suaranya?
Kami masih percaya
bumi punya roh
dan roh itu sedang bersedih
ia menangis
di balik batu
di balik pohon yang tumbang
ia menggigil
setiap kali kami
dipaksa angkat kaki
demi membuncitkan perut mereka
esok nanti
jika semuanya pergi
dan kami menjadi perih
siapa yang bisa mengembalikan doa kami?
Lembah Dodinga, 07 Agustus 2025
========









