TNI Bukan Penjaga Kantor, tapi Penjaga Masa Depan Negara

oleh -273 views

Indonesia butuh struktur komando krisis siber nasional—bukan karena paranoia digital, tetapi karena kenyataan geopolitik yang mengharuskan kita siap.

TNI punya semua modal untuk berperan aktif—bukan sebagai pelengkap teknis, melainkan sebagai arsitek utama respons strategis nasional.

Waktu tak lagi berpihak pada kita. Penundaan adalah kerentanan. Hanya struktur yang tangguh dan berpikir jauh yang bisa menjaga kita tetap tegak.

Tanpa doktrin yang mengatur keterlibatan TNI dalam ruang strategis, kita sedang membiarkan lahan pertahanan nasional menjadi wilayah abu-abu.

Ini bukan hanya soal teknis siber, tetapi soal kedaulatan informasi dan kendali atas kesadaran kolektif. Kita tidak bisa terus-menerus menempatkan TNI di pinggiran, sementara medan utama dibiarkan kosong.

Baca Juga  Netanyahu Klaim Kuasai 70 Persen Gaza, Barghouti Sebut Gencatan Senjata Berakhir

Sudah saatnya pertanyaan ini diajukan secara serius: apakah kita memberi ruang yang cukup bagi TNI untuk berkembang sebagai aktor strategis masa depan?

Bila jawabannya ragu-ragu, maka kita sedang menunda peran penting yang hanya bisa dimainkan oleh lembaga sekelas TNI.

Reposisi peran bukan ancaman bagi demokrasi. Justru, demokrasi yang matang membutuhkan militer yang kuat secara visi, bukan sekadar pengisi celah birokrasi.

Kita tak bisa membangun pertahanan masa depan hanya dengan koordinasi sektoral. Dibutuhkan arah. Dibutuhkan kepemimpinan. Dan TNI bisa menjadi salah satu poros utamanya—jika diberi kepercayaan dan mandat strategis.

No More Posts Available.

No more pages to load.