Trump dan Politik Amoral: Ketika Benar-Salah Tak Lagi Relevan

oleh -613 views

Oleh: Rachlan Nashidik, Politisi

Banyak pengamat menuding Donald Trump imoral. Ia tak ragu, apalagi malu, berbohong tentang banyak hal yang kebenarannya sudah diketahui publik. Ia juga terang-terangan menghina lawan-lawan politiknya — bahkan lembaga lembaga publik yang seharusnya dihormati.

Tapi Trump di mata saya bukan seorang imoral — ia sebenarnya amoral. Apa bedanya?

Imoralitas terjadi ketika orang mengetahui batasan benar dan salah, tapi toh ia memilih untuk melanggarnya. Seorang politisi yang berbohong, misalnya, ia tahu bahwa berbohong itu salah. Justru karena ia tahu itu salah, maka ia akan mencoba menyangkal, menutupinya, atau mencari pembenaran. Politisi itu mengakui bahwa ia hidup dalam dunia yang memiliki aturan moral. Ia menyadari batasan benar dan salah itu ada, kendati ia kemudian melanggarnya.

Amoralitas berbeda. Suatu tindakan tidak diukur dari benar atau salah, melainkan dari efektivitas atau keberhasilannya. Dalam amoralitas, benar atau salah tak penting dan tak relevan. Jika suatu tindakan dihitung akan berhasil memperkuat posisi kekuasaan, atau efektif menghancurkan lawan, maka tindakan itu dengan sendirinya absah, tak peduli apa pun akibatnya. Di sini, moralitas bukan dilanggar, tetapi dikeluarkan dari perhitungan.

No More Posts Available.

No more pages to load.