Trump dan Politik Amoral: Ketika Benar-Salah Tak Lagi Relevan

oleh -704 views

Seorang imoral tahu bahwa ia melanggar aturan. Seorang amoral bertindak seolah-olah aturan itu tidak pernah ada.

Bayangkan ketika cara berpikir demikian masuk ke dalam politik kekuasaan. Itu akan mengubah cara seluruh sistem politik bekerja. Hari-hari ini, kecenderungan amoralitas demikianlah yang kian nyata dalam politik Amerika.

Sejak awal, Trump menunjukkan sikap yang secara terbuka mengabaikan batas moral yang sebelumnya dianggap imperatif dalam pergaulan publik. Ia, contohnya, pernah secara terbuka mengejek seorang jurnalis penyandang disabilitas. Tapi kontroversinya bukan penghinaan itu sendiri. Yang lebih mencolok adalah sikap setelahnya.

Trump tidak menunjukkan penyesalan, sebaliknya menganggap kritik dan serangan padanya adalah bukti kelemahan lawan-lawan politiknya. Bersikap politically correct bukan kepribadian Trump.

Pola yang sama muncul dalam kebijakan imigrasinya yang cenderung rasistik. Ribuan anak dipisahkan dari orang tua mereka sebagai bagian dari strategi penegakan hukum imigrasi — seperti dalam kasus pemisahan keluarga di perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko.

Baca Juga  Bahlil Tegaskan Golkar Kawal Pemerintahan Prabowo hingga Tuntas

Semua tahu, kebijakan imigrasi yang keras dalam politik Amerika bukanlah khas Trump. Tapi menjadikan penderitaan anak-anak sebagai instrumen tekanan politik adalah hal lain dan sangat buruk. Penderitaan manusia, alih alih dihindari, malah dijadikan alat kebijakan.

No More Posts Available.

No more pages to load.