UAS, Isra Miraj dan Abu Jahal

oleh -79 views
Link Banner

Oleh: Ahmad Ibrahim, Wartawan Senior

DALAM sebuah ceramahnya tentang Isra Miraj Ustad Abdul Somad (UAS) pernah mengemukakan pentingnya mengintegrasikan pendidikan umum dengan pendidikan agama. Itulah mengapa perlunya kurikulum integrity memadukan kedua pendidikan ini agar generasi kita bisa membaca dan menangkap setiap fenomena di atas alam ini. Sebab semua peristiwa yang terjadi di jagat ini termasuk dalam diri manusia memiliki tanda-tanda menandai kebesaran Sang Pencipta.

Ceramah UAS itu disampaikan di hadapan para undangan dalam rangka Peringatan Isra Miraj yang diselenggarakan Yayasan Ar Rahmah pimpinan Habib Rifqi Alhamid, di SwissBell Hotel, Ambon, Selasa malam, (9/3/21).

Saat itu UAS menceritakan sebuah
kisah tentang peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang oleh sebagian kalangan pemuka kafir Makkah kala itu yakni Abu Jahal dan Abu Lahab tak mempercayainya.

“Abu Jahal dan Abu Lahab itu tak belajar fisika, kimia, dan astronomi. Mereka tak tahu bahwa kecepatan cahaya ternyata lebih cepat yakni satu detik sama dengan 300.000 Km dari kecepatan suara. Karena itu tak ada yang mustahil bagi Allah untuk memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Palestina kemudian ke langit dalam tempo semalam,” ujar UAS.

Peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan pada kita tentang pentingnya membaca. Abu Jahal dan Abu Lahab serta “abu-abu” yang lain, kata UAS, tak yakin dan percaya atas peristiwa bersejarah yang dialami Nabi Muhammad SAW pada 27 Rajab 1442 H karena mereka tak membaca.

Menurut UAS, jika Abu Jahal dan Abu Lahab membaca kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang dikenal sebagai penyembah matahari itu maka tak ada yang mustahil jika Allah SWT bisa memperjalankan —bukan
berjalan dalam arti harfiah— kepada Nabi Muhammad dari Makkah ke Palestina kemudian ke langit hanya dalam tempo semalam.

Dalam Al-Quran dikisahkan, saat itu Nabi Sulaiman yang juga dikenal memiliki mujizat itu dengan kerajaannya yang ada di Kan’an (Palestina) mengirimkan surat melalui
Burung Hud-Hud ke Ratu Balqis di Negeri Saba (Yaman) tempat dimana sang ratu bertakhta agar tak berlaku sombong terhadap rakyatnya.

Baca Juga  PT Wanatiara Persada Site Haul Sagu Raih Penghargaan dari Kementerian Investasi/BKPM

Setelah membaca surat yang isinya juga antara lain meminta Ratu Balqis menghadap Nabi Sulaiman seketika oleh para pembesarnya meminta Ratu Balqis mengirimkan ribuan pasukan menemui Nabi Sulaiman.

Mendapat informasi akan datangnya ribuan pasukan Ratu Balqis, seketika Nabi Sulaiman yang oleh kalangan Bani Israel dan Kristen dikenal dengan nama King Solomon itu memerintahkan Jin Ifrit (jin yang dikenal kuat) memindahkan singgasana kekuasaan Ratu Balgis sebelum pasukan Ratu Balqis tiba.

Betapa terkejut Ratu Balqis dan pasukannya seketika di hadapan Nabi Sulaiman mereka melihat istananya yang ada di Negeri Sabah, Yaman, sudah berpindah tempat di Kan’an.

Untuk diketahui, jarak antara Yaman dan Palestina kira-kira 1.500 mill atau 2.400 Km. Pun jarak antara Makkah dan Palestina tempat dimana Nabi Muhammad SAW diperjalankan dalam peristiwa Isra Mi’raj itu hanyalah berjarak 1.500 Km.

Kalau kecepatan cahaya lebih cepat yakni satu detik sama dengan 300.000 Km dari kecepatan suara, maka tak ada yang mustahil bagi Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad hanya dalam tempo semalam.

Baca Juga  Pusat Studi Pedesaan Unpatti Sampaikan Hasil Kajian Kesenjangan Pendidikan di Aru

Di sini UAS ingin mempertegas bahwa pemahaman soal agama tidaklah cukup bila tidak dibarengi oleh pengetahuan umum. Jadi, mempelajari ilmu fisika, kimia, matematika, dan astronomi adalah sebuah keharusan.

Pun sebaliknya, pengetahuan umum tanpa diikuti oleh pendidikan agama bisa membuat kesesatan dalam berpikir dan bersikap.
“Itulah pentingnya kurikulum integritry. Memadukan antara pendidikan umum dan pendidikan agama,” ujarnya.

Bukankah dalam sejarahnya, para pemikir dan intelektual abad pertengahan Islam umumnya adalah mereka para agamawan sekaligus ilmuwan? Selain sebagai ulama mereka juga ada yang ahli fisika, kimia, matematika, astronomi, dan kedokteran.

Kitab-kitab mereka hingga kini menjadi rujukan literatur keilmuwan modern. Mereka ini tak lain adalah orang-orang yang juga
ahli di bidang agama.

Sebut saja Ibnu Sina yang oleh dunia Barat dikenal dengan nama Avicenna adalah seorang filosof dan ahli kedokteran yang bukunya menjadi rujukan literatur kedokteran di dunia Barat hingga kini.

Pun ada namanya Al-Khawarizim seorang ahli ilmu matematika yang salah satu cabang ilmunya dikenal dengan nama Aljabar itu.

Juga ada yang namanya Ibnu Khaldun ahli sejarah dan sosiolog yang oleh dunia Barat ia mendapatkan gelar sebagai Father of Historiography.

Selain itu, ada pula nama Ibu Rusyd yang ahli filsafat, dan ilmu fiqh. Juga ada Abul Qasim Khalaf ibn Al-Abbas Az- Zahrawi yang dikenal dengan karya-karya fenomenalnya di bidang kedokteran.

Baca Juga  Pulau Hiri Menyimpan Sejarah

Begitu pentingnya agama dalam peta pendidikan nasional mestinya harus diapresiasi. Karena itu sangatlah naif jika ada upaya untuk menghilangkan frasa “agama” atas Penyusunan Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di sebuah negara yang berdasarkan Ketuhanan.

Selain tak sejalan dengan Pasal 31 UUD 1945, hilangnya frasa ‘agama’ merupakan bentuk melawan konstitusi karena berdasarkan hierarki hukum, produk turunan kebijakan seperti peta jalan tak boleh menyelisihi peraturan di atasnya yakni peraturan pemerintah, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), UUD 1945, dan Pancasila yang akan berdampak pada aplikasi dan ragam produk kebijakan di lapangan.

Pentingnya menciptakan generasi yang gemar membaca sebagaimana dikatakan UAS di atas agar membuat kita tak kehilangan arah di tengah perubahan dan kemajuan. Upaya menciptakan generasi kita gemar membaca haruslah selalu menjadi motivasi bagi siapapun yang ingin berubah.

Namun, di tengah perubahan dan tuntutan zaman tersebut tak sampai membuat nilai-nilai agama terabaikan. Karena itu memisahkan agama dari peta jalan pendidikan nasional kita — selain berlawanan dengan semangat nilai-nilai Pancasila yang selama ini menjadi pilar utama kita dalam berbangsa dan bernegara— juga sekaligus menguburkan masa depan generasi kita.

Pentingnya menciptakan generasi yang gemar mem­baca dan upaya mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan agama melalui apa yang disebut oleh UAS dengan “kurikulum integrity” merupakan sebuah
keharusan agar kelak tak muncul lagi generasi Abu Jahal, Abu Lahab, dan “abu-abu” yang lain. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.