Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara merata.
“Dari sisi ekonomi, pertumbuhan Kabupaten Buru berada di kisaran 4–5 persen per tahun. Struktur ekonomi masih didominasi sektor primer seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan,” jelasnya.
Kondisi ini, lanjut Umar, menegaskan peran Buru sebagai tulang punggung ketahanan pangan Maluku, namun sekaligus menjadi pengingat pentingnya diversifikasi ekonomi agar lebih tahan terhadap berbagai guncangan.
Kemiskinan dan Ketenagakerjaan Masih Jadi PR
Di sisi lain, persoalan kesejahteraan masyarakat masih menjadi tantangan besar. Tingkat kemiskinan di Maluku masih berada di kisaran 15 persen, sementara di Kabupaten Buru juga masih berada pada angka belasan persen.
Angka tersebut, menurut Umar, menggambarkan bahwa masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, terutama di wilayah pedesaan yang bergantung pada sektor pertanian tradisional.
“Sebagian besar masyarakat miskin berada di pedesaan—nelayan, petani, dan mereka yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam dengan produktivitas yang masih terbatas,” katanya.
Selain itu, sektor ketenagakerjaan juga menghadapi tantangan serius. Mayoritas tenaga kerja masih berada di sektor informal dengan tingkat produktivitas dan pendapatan yang relatif rendah.









