Kondisi tersebut membuat laut memiliki dua wajah bagi masyarakat MBD.
Di satu sisi, laut merupakan ruang ekonomi yang menyimpan potensi kelautan dan perikanan serta jalur perdagangan dan konektivitas. Namun di sisi lain, keterbatasan transportasi laut dapat menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan maupun mengembangkan aktivitas ekonomi.
MBD dan Tantangan Membangun Kawasan Perbatasan
Lessy menyebut MBD selama ini kerap dijuluki Forgotten Islands atau Kepulauan yang Terlupakan karena letaknya yang jauh di bagian selatan Maluku.
Namun, menurut dia, julukan tersebut tidak sejalan dengan posisi strategis MBD dalam konteks geografis dan geopolitik Indonesia.
Kabupaten itu berada di kawasan yang berhadapan langsung dengan Australia dan Timor Leste. Karena itu, pembangunan MBD tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan sebuah daerah otonom, tetapi juga menyangkut bagaimana negara menghadirkan pelayanan dan kesejahteraan di wilayah perbatasan.
“Di sanalah kehadiran negara diuji secara nyata—bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi melalui seberapa jauh negara mampu memastikan masyarakat di pulau-pulau terluar menikmati hak dan kesempatan yang sama dengan warga negara di wilayah lain,” ujarnya.











