“Ini menjadi salah satu bukti bahwa kebutuhan kita untuk mengembangkan sayuran dan memenuhi kebutuhan di Kota Ambon dapat dilakukan melalui pengembangan hidroponik,” ujar Prof. Malle.
Hampir 4.000 Titik Tanam Jadi Modal Pengembangan
Banyaknya titik tanam yang tersedia menunjukkan bahwa pengembangan hidroponik di lingkungan Unpatti tidak sekadar ditempatkan sebagai kegiatan percobaan.
Fasilitas tersebut mulai diarahkan menjadi bagian dari usaha produktif yang dapat memberikan nilai tambah, baik bagi institusi maupun masyarakat.
Prof. Malle mengatakan, pengembangan usaha produktif memiliki nilai strategis bagi Universitas Pattimura yang telah berstatus sebagai Badan Layanan Umum (BLU).
Karena itu, berbagai potensi yang dimiliki kampus perlu terus dikembangkan agar tidak hanya mendukung aktivitas akademik, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial.
Hidroponik menjadi salah satu pilihan karena dapat memanfaatkan lahan secara optimal sekaligus menghasilkan komoditas pertanian yang dibutuhkan masyarakat.
Di sisi lain, keberadaan kebun hidroponik juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa.
Teknologi budidaya tanaman, pengelolaan produksi, hingga bagaimana sebuah produk pertanian dikembangkan menjadi usaha dapat dipelajari secara langsung melalui fasilitas tersebut.









