Viridiana Alvarez, Pendaki Tercepat Tiga Gunung Tertinggi Dunia

oleh -35 views
Link Banner

Porostimur.com | Mexico: Viridiana Álvarez Chávez berhasil memecahkan rekor Guness World Record (GWR) sebagai pendaki tercepat menjajal tiga gunung tertinggi dalam setahun.

Perempuan berusia 37 tahun itu melakukan aksinya pada tahun 2019 dan mendapatkan penghargaan GWR setahun setelahnya melalui upacara jarak jauh.

Saat dinobatkan sebagai pendaki tercepat, Viridiana berusia 36 tahun. Sementara untuk dapat mencapai rekor tersebut, dirinya berlatih selama delapan tahun sejak berusia 28.

Kalahkan Pendaki Korea Selatan

Chávez merebut gelar pendaki tercepat dari mendiang Go Mi-Sun dari Korea Selatan, yang pendakian ke tiga gunung tertinggi dicapai dalam dua tahun dan dua hari pada tahun 2007.

Link Banner

Go Mi-Sun meninggal dua tahun kemudian ketika memiliki perjalanan ke Nanga Parbat di barat Himalaya.

Baca Juga  Istri Bupati Halbar Terlantar, Dan Dilarang Masuk Kediaman Bupati, Itu Hoax

Pandemi COVID-19 membuat Chávez tidak melanjutkan rencana pendakiannya. Kendati demikian ia terus berlatih hingga waktunya nanti aman untuk mendaki kembali.

Chávez yang berasal dari daerah Aguascalientes, Meksiko, menunjukan bahwa tekad dan keinginan yang kuat akan membuahkan hasil.

Chávez mengutarakan bila dirinya ingin mendaki Gunung Everest, setelah dia sukses mengikuti kompetisi Half Ironman.

Pikiran yang Kuat dan Motivasi

Ia mengaku tak masalah dalam memotivasi diri. Itu berarti dirinya bisa mengatasi ketakutannya. Dia mengatakan bahwa mendaki gunung bukan hanya tentang ketakutan, tapi menaklukan ketakutan itu sendiri.

Chávez, mengenang pengalamannya ketika mendaki K2 dan menyaksikan seorang pendaki lain jatuh. Dirinya sempat terkejut selama lima hingga tujuh menit setelah kejadian tersebut, dan melanjutkan perjalanannya.

Baca Juga  Satres Narkoba Polres Ambon upayakan penuntasan 30 kasus

Dengan tetap berada di jalurnya, Chávez meraih gelar lain: Dia menjadi wanita Amerika Latin pertama yang mencapai puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia setelah Everest.

Ekspedisi K2, bersama dengan Gunung Everest dan Kangchenjunga, membutuhkan kondisi fisik yang tidak sedikit, tetapi Chavez dengan cepat memuji kecerdasan pikiran dan emosionalnya juga dalam menghadapi tiga raksasa Himalaya.

Memiliki Ketekunan adalah Segalanya

Chávez tidak langsung mendaki bukit ketika memulai olahraga mendaki pada tahun 2011. Ia memulainya dengan membiasakan diri dengan semua perlengkapan yang dibutuhkan ketika mendaki.

Chávez berlatih menggunakan sepatu lari, balapan sejauh 10k (6,2 mil) dan suka mendaftar setengah maraton (21,1 mil) dan kemudian maraton penuh (26,2 mil).

Baca Juga  Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Ambon, Kamis 22 April 2021

Setelah menyelesaikan kompetisi Half Ironman (70,3 mil), Chávez memfokuskan ketabahan dan energinya untuk mendaki gunung.

Hanya dua tahun setelah dia mulai berlari hanya sebagai bentuk latihan, Chávez mendaki Pico de Orizaba, gunung tertinggi di Meksiko.

Dan saat itulah Chávez benar-benar merasa cocok. Mendaki gunung, membuat jantungnya berdegup kencang, berdetak sedikit lebih cepat.

“Gunung adalah tempat saya dapat menantang diri saya sendiri dan mengenal diri saya lebih baik,” ujarnya.

(red/bs)