Titi Munubi dari desa Olilit, menyampaikan, adanya regenerasi penenun membuat mereka kekurangan perangkat alat tenun. Pihaknya juga masih butuh pelatihan, khususnya dalam menggunakan alat pewarna benang. “Alat tenun kami kurang karena anak-anak muda sekarang juga banyak yang bisa menenun,” ungkapnya.
Menjawab masukan dan persoalan yang diungkapkan para penenun, Widya mengaku akan membuat wadah sehingga persoalan yang dihadapi para penenun bisa dicarikan solusinya. “Untuk itu kita akan buat wadah. Tentang teknik pewarnaan, kita akan bantu dengan pelatihan,” katanya.

Untuk bahan baku, dia akan mengupayakannya. Bahkan, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku ini ingin agar para penenun tidak lagi memikirkan bahan baku, dan hanya fokus untuk memproduksi bahan tenun ikat.
“Saya ingin semuanya senang. Penenun tidak lagi pikir bahannya darimana, ibu-ibu buat saja, nanti biayanya berapa? Tapi jangan setelah punya uang banyak, lalu jadi malas. Jangan saat lagi banyak uang lalu stop tenun, tidak ada uang baru tenun lagi,” tegasnya.
Widya ingin adanya komitmen bersama untuk menjadikan KKT sebagai kabupaten kreatif berbasis tenun ikat. “Mari rajin menenun, hasilnya di tabung. Mari kita rubah pola pikir. Semua orang tidak diberikan talenta untuk menenun. Jadi ibu-ibu harus bangga punya keahlian ini,” katanya memberikan semangat.




