Kuharap dia juga sama.
———
Contigo aprendí
A ver la luz del otro lado de la luna
Contigo aprendí
Que tu presencia no la cambio por ninguna
“Sheldon?” suara asing terdengar dari arah punggungku.
“Ya?” terkejut, aku menoleh. Bingung. Entah sudah berapa lama perempuan ini berdiri di belakangku hingga ia bisa menebak apa yang sedang kubaca.
Perempuan itu mengernyit memicingkan mata, menatapku lekat dari ujung rambut yang aku lupa pakaikan gel pagi ini hingga sneakers Nike hitam kesukaanku. “Serius kau baca Sheldon?” tanyanya lagi dengan nada tak percaya.
Aku mengangkat bahu, “Pertama kali.”
Ia tergesa berjalan ke sofa kosong di hadapanku, melirik kanan dan kiri seolah mencari seseorang. Perkiraanku salah karena kemudian ia bertanya, “Kau sendirian?”
Percakapan yang aneh. Sebelumnya tak pernah ada yang iseng mengajakku ngobrol di tempat umum seperti ini. Orang bilang wajahku terlalu dingin untuk diajak bicara, pun dengan teman sendiri. Terlebih, perempuan ini orang asing.
“Kau sendirian juga? Duduk saja di situ,” kalimat aneh juga yang kulontarkan. Ia menjawab pertanyaanku dengan benar-benar duduk di sofa itu. Luar biasa. Kini aku duduk dengan seorang yang entah siapa. Aku menunduk, mencari alinea mana yang barusan kutinggal. Kubiarkan dia sementara aku mencoba terlena memasuki jagat cerita.











