Tentunya dari penyebab kasus ini, bukan ada tekanan dari sekolah, tetapi faktor internal keluarga.
“Kebutulan, siswi tersebut adalah anak broken home yang yang mestinya usia remaja ini, butuh proses pencarian jati diri, dan membutuhkan dukungan keluarga secara intens,” tuturnya.
Harapannya, YLBH – PAPI akan melakukan kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat, terutama kepala desa, dan seluruh organisasi perempuan yang ada di Kabupaten Pulau Morotai untuk melakukan sosialisasi yang fokusnya terhadap ibu beserta keluarganya untuk mengawasi generasi muda di pulau Morotai. (Mansyur Armain)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News




