10 Besar Lomba Cipta Puisi HUT Provinsi Maluku Ke-78

oleh -734 views

=====

TABULI

    Karya: Remzky Nikijuluw

    Unu, kenyataannya waktu bagaikan Tabuli yang kau tiup, sembilu. manakala maut sudah memagut ubun-ubun. Mengawang di udara terkulai satu demi satu, kau kirim satu-satunya pesan paling lengang, bergeming seorang lelaki mengusap hati yang patah melata.

    Aku meniup menghadapmu barat daya, saban hari kau menunggu di tenggara. Aku meniup untuk hidup, sebab itu aku menunggumu waktuku. Tabuli yang paling merdu, hanya kau, Unu.

    Nuruwe, di satu lorong angin, ada mantra yang dirapal ulang-ulang. Bulu adalah keramat jiwa-jiwa orang mustakim. Maka dengarlah suara Tabuli pada angin yang lurus menikam telinga.

    Agustus 2023.

    Wildears.

    Catatan: Tabuli adalah sebuah alat tiup yang terbuat dari bambu. Biasanya digunakan sebagai alat komunikasi. Menyampaikan pesan kematian, ritual dan acara-acara adat.

    =====

    Baca Juga  Ketika Citra Tak Sejalan Data: Maluku Utara Terpuruk dalam EPPD 2025

    Pamali Lingat

      Karya: Bobby Tri Stevan Sopamena

      dahulu
      matahari memberi diri
      sedekat mungkin,
      dengan laki-laki
      dengan perempuan.
      alangkah sunyi dan permai
      laut di hati nyai nyai dan
      datuk datuk.
      tak lupa tabweri,
      yang sentosa di ujung pandangnya
      gadis-gadis dirawat,
      dipakaikan tenun satu badan
      saban sore.
      o, betapa diri mereka tulus
      membagi-bagi saguer darah
      dan aroma babi, teteruga, ikan-ikan
      pada badan hutan lagi samudera itu.
      rumah kampung tempat mereka
      persembahkan kurban keluarga.
      tetapi di bibir kampung itu
      ada lingat yang menenun
      napas orang Tanembar.
      dibuang segala fana mereka
      dan kenakan jubah
      dari angin-angin laut.
      lelaki berburu
      lelaki molo-molo jao.
      selepasnya,
      pulang barembeng
      membawa hasil tangkapan
      yang hendak bermantra di muka tungku
      oleh perempuan-perempuan
      yang sekujur tubuh mereka
      memandikan bunga rampai.
      “sudah selesai.
      mari mama-mama manis,
      bawa perjamuan ini
      bagi Ubu, bagi kaki Ubu.
      mari badendang ramai
      pono sujud, pono syukur,
      kita menari Tnabar Vanewa
      kita keku balanga, kita keku bakul.
      sio kasiang, Ubu sudah lapar.
      pujaan hati sudah lapar”.
      “kida, kida. mari e.
      mari katong koliling ub’lingat,
      Katong menari Tnabar Ilaa.
      katong kasih pa Ubu dolo
      karena Ubu yang dulu kasih pa katong”.
      “o Ubu o. Ya Ubu o.
      di ub’lingat ini
      mari tabaos bagi perjamuanMu”.
      “ya Allah, minumlah saguer ini.
      berilah hasil baik pada pohon-pohon sadapan itu,
      agar bersama dengan Dikau
      kami nanti meminumnya lagi
      di sini, di dalam lingat”.
      “ya Allah, makanlah kulit dari tulang rahang babi ini.
      dan bila kami pergi ke hutan,
      bantulah supaya kami berhasil dalam perburuan,
      agar setelah kami pulang, Engkau di sini, dalam lingat,
      menikmatinya lagi ya Allah”.
      “kese, kese, mari dudu.
      Katong bicara Kampong.
      mari katong jadi tiang
      mari katong jadi atap.
      mari katong makan, supaya katong kuat
      pameri kabong baru.
      supaya katong kuat batanam luhur
      biar jadi lingat bagi anana cucu”.
      “bapa o, mama o.
      katong pasti bangun benteng portugis
      benteng balanda, sabadang,
      untuk katong punya gadis cendrawasih
      di kolong Rahan Tnebar ini”.

      No More Posts Available.

      No more pages to load.