Di titik inilah angka 212 kasus tidak semata-mata menjadi statistik, tetapi juga menjadi gambaran mengenai pekerjaan rumah sistem kesehatan dalam memastikan pemeriksaan dan layanan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Namun, data tersebut belum menjelaskan secara rinci karakteristik kasus, seperti distribusi berdasarkan kecamatan, kelompok usia, jenis kelamin, maupun faktor risiko. Dinkes Kota Ambon masih melakukan pendataan lebih lanjut mengenai asal daerah pasien yang ditemukan.
Informasi yang lebih rinci dibutuhkan agar intervensi pencegahan dan penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Stigma Masih Menjadi Tantangan
Selain persoalan deteksi, Dinkes Kota Ambon menaruh perhatian pada stigma terhadap orang dengan HIV.
Johan mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan perlakuan diskriminatif kepada orang yang hidup dengan HIV.
Menurutnya, orang dengan HIV tetap dapat menjalani kehidupan dan beraktivitas secara produktif apabila mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat.
“Orang dengan HIV itu bukan musuh. Walaupun mereka sakit, kita tetap bisa menjangkau mereka,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan HIV tidak hanya berkaitan dengan aspek medis.
Stigma dan diskriminasi dapat menjadi hambatan bagi seseorang untuk melakukan pemeriksaan maupun mengakses layanan kesehatan. Kekhawatiran terhadap penolakan lingkungan juga dapat membuat seseorang memilih menyembunyikan kondisi kesehatannya.








