27 Juli

oleh -303 views

Para gedibal Suharto ini diam-diam berpaling dari tuannya.Sekalipun mereka bermanis muka didepannya.

Harus diakui, oposisi terhadap Suharto dan Orde Barunya menjadi semakin mendapat tenaga karena dukungan diam-diam ini. Kekuatan PDI-P juga tidak bisa dilepaskan dari soal “pengkhianatan” ini.

Kemudian juga tumbuh anak-anak muda yang militan. Mereka dilatih menjadi kader-kader yang sangat disiplin dalam semangat revolusioner. Mereka bercita-cita mendirikan sebuah negeri yang demokratis, egaliter, dan tentu saja revolusioner. Mereka tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dideklarasikan hanya lima hari sebelum Tragedi 27 Juli terjadi.

Kehadiran partai anak-anak muda ini mulai mengkhawatirkan para pendukung Suharto. Mereka yang mengamankan rejim dan berharap mendapatkan “warisan” kekuasaan berusaha dengan segala cara memberangus kekuatan kecil yang militan ini.

Para “pewaris” ini sebenarnya adalah klik tersendiri di dalam tubuh militer rejim Orde Baru. Ada banyak klik lainnya dan mereka bersaing satu sama lain. Dan Suharto dengan kepiawiannya memainkan perimbangan kekuatan ini. Klik mantunya diberi angin, demikin pula klik lawannya.

Baca Juga  Aliansi Kemanusiaan Indonesia Kecam Penahanan Relawan Gaza oleh Militer Israel

Kepiawaian memainkan dan mengadu berbagai kekuatan ini adalah salah satu kemahiran Suharto. Dia pura-pura berdiri di atas semua golongan. Seakan-akan dia mendukung si Polan; ketika di depan si Banu, dia juga tampak mendukung si Banu. Demikian seterusnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.