3 Puisi 3 Penyair Maluku Tentang Banda Naira

oleh -4 Dilihat
Ssuasana tempat wisata di Banda Neira (instagram.com/satyawinnie)

Surat Untuk Naira

Karya: Ammar Hafid Sabban

Naira, semua pagi dari semua hari masih begini saja. Dingin yang berakar pada embun di pucuk-pucuk pala tak pernah mendefinisikan rindu. Tapi kuingat alismu mengerut, barangkali hanya sejenak kala itu, tuhan mendangkalkan Palung Banda untuk kita seberangi menaruh cinta di Binaya.

Naira, semua siang dari semua hari masih itu-itu saja. Panas yang menghardik kesialan di bumi manusia,

— menjadi tak berdaya saat kita mencumbu kopi yang sama di Mardika.
Bibirmu masih terlekat rindu,

dan aku barangkali masih terjebak dalam kenang siang bolong itu.

Naira, semua sore dari semua hari masih sama saja.
Tak kutemui senyummu yang sabit dalam senja di antara gedung-gedung ibu kota.
Jakarta terlalu sesak menampung kesunyian.

Baca Juga  Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap Sosok Pencetusnya

— dan kehilangan Ra,
kehilangan tak pernah mengajarkan yang lain selain rindu.

Naira, semua malam dari semua hari telah kutanggalkan

— saat ciuman pertama kita curi di Belgika.

Dingin tanganmu adalah karang-karang di arafura, aku karam dan hanyut.

— Temui dan cintai malu-ku

Naira, jika besok telah menyerah menjadi hari ini
aku ingin kau ingat Ra.
pohon baru akan tumbuh
dari daun terakhir yang gugur.

========

Banda Naira dalam Pelukan

Karya: Mila Abas

Ada bentuk cinta yang ku rindu di setiap sudut Banda Naira.
Ada mama yang selalu menghidangkan papeda setiap pagi.
Ada aroma kopi senang dari gelas bapa sepanjang hari.
Dan, ada warna cinta yang dituangkan lewat ikan kuning asam pala.

No More Posts Available.

No more pages to load.