Makam Waktu
Di luar; aku pesan kuburan. Bunuh mereka! sebelum aku memancang nisanku sendiri di balik kesedihan
Aku tidak ada; tidak ada aku — tidak ada hidup
Di balik monokrom selain diriku; hanyalah abu, hanyalah batu
Tamat, sebuah renungan terhapus. Setelahku; istirahat panjang adalah napas yang sehat di masa depan.
2023
==========
Non (Identity)
Aku tidak mengerti cara bernapas; sekalipun dua kendaraan saling bertabrakan dan menghantui saksi mata
Sisi kepercayaan itu; antara yang memeluk dan menyikut. Telah ambruk di hadapanku
Tubuh yang hangus, seperti api mengingat ajalnya. Lewat keyakinan; kita mati di ujung kertas.
2023
========
Arsip Non-Liris Yang Terbuang
:Untuk Afrizal Malna
Bagaimana kalau sebuah hari bergoler malas membentuk spasial di matamu? apakah jari tangan meminjam kegiatan di tahun depan? tetapi bagaimana kalau gelas menyimpan kekosongan di kupingmu? apakah suara pecahan menginjak tujuan hidupmu?
Ini adalah puisi terbuang; menyimpannya pada arsip kegagalan. Kau hanya bergendak sedikit saja. Di situ, bayi-bayi menyesali takdirnya sendiri. Apakah puisi ini tersimpan dalam kumpulan nama-nama kematian?
Bibir-bibir terasa pecah ketika menyebut solilokui. Aku bukan aktor kehidupan yang membicarakan keresahan sendiri lewat kerumunan massa. Lingkungan di sini berguguran, seperti pohon tumbang; aku membicarakan masa depanmu. Apakah kamu mengerti puisiku? tidak perlu begitu paham











