Yang pasti, akibat watak yang lemah, yang enggan menerima kritik dari pakar, akademisi, dan masyarakat sipil, terkait kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak koheren, “mengembalikan” dwi-fungsi ABRI, menggusur pengaruh Jokowi secara tegas, menyeluruh, dan bermakna, maka tak ada harapan Indonesia akan menjadi lebih baik ke depan.
Dus, kendati datang dari dua dunia yang berbeda — Jokowi datang dari dunia lama yang gelap, sementara Prabowo datang dari dunia modern yang jauh dari hipokrisi, takhayul, dan feodalisme – legasi pemerintahan keduanya tak akan jauh berbeda, bahkan bisa jadi Jokowi lebih baik, bila Prabowo tidak menyadari watak lemahnya yang menjadi akar kejatuhan rezim Soekarno dan Soeharto.
Dalam usia 80 tahun ini, saatnya pemerintah memberi perhatian lebih pada sektor kebudayaan untuk menciptakan manusia Indonesia baru yang bebas dari ciri-ciri yang dikemukakan Mochtar Lubis. Selama ini pemerintah memandang kebudayaan sebagai aspek yang tidak signifikan karena memahami kebudayaan dalam pengertian yang sempit.
Padahal, kebudayaan adalah induk dari semua aspek kehidupan manusia sehingga menjadi sumber dari maju mundurnya sebuah bangsa. Andaikan Prabowo punya karakter yang kuat, sesungguhnya ia punya syarat yang cukup untuk mengembalikan Indonesia ke jalur yang dicita-citakan para founding father, bukan jalan kolaborasi Ken Arok-Mpu Gandring yang dipilih Jokowi. (*)











