Alamat Rindu di Laut yang Retak
alamat rumah kita tenggelam
di laut yang terkutuk
setiap pecahannya adalah gema
janji yang karam sebelum bernama
waktu patah di sela napas
malam melerai degup
di tepian yang dingin
dan pelukan menjelma kabut
masa lalu tinggal bayang—
di jari-jari
yang lupa cara menggenggam
“jangan tunggu aku,” katamu
lorong rumahmu mengerut oleh gelap
langkah kaki menjadi asing
aku tersesat memanggilmu
yang tak lagi bidadari
di luar jendela, angin menulis pulang
dengan aksara yang tercerai hujan
subuh mengirim surat cinta yang terisak
gerimis menyebut namamu tanpa jeda
aku lelaki yang melayari rindu
dayungku luka yang berulang
setiap kayuh menenggelamkan kenangan
ke dasar sunyi yang tak terjamah
saat hujan jatuh, alamat itu kembali—
peta yang tak selesai kubaca
namamu:
jalan pulang
yang tak pernah ada
Ambon, 29 Maret 2026
============
Liturgi Merah di Ujung Tanjung
wahai samudera yang berdenyut oleh garam
engkau menyimpan air mata yang tak kembali
duka para ibu yang larut di lipatan doa
sedangkan aku meniti punggungmu tanpa alamat
dulu kukira penaklukan adalah peta dan nisan
kemenangan yang tumbuh dari kehilangan
hingga di kabut tanjung yang sunyi
kutemukan bayang yang lebih abadi dari pelayaran
seorang gadis berbaju merah di atas jembatan
sederhana seperti asap dapur di pagi hari
dari napasnya lahir warna bagi dunia
dan laut pun diam-diam belajar bernyanyi









