Angka-Angka yang Bersuara: Ketika Survei Menjadi Narasi Kekuasaan

oleh -478 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada masa ketika angka dipercaya sebagai cermin paling jujur dari kehendak publik. Ia dipandang dingin, objektif, dan bebas kepentingan. Namun dalam lanskap politik hari ini, angka tak lagi sekadar memotret. Ia juga berbicara, bahkan kadang berbisik dengan arah yang telah ditentukan.

Rilis survei Indikator Politik Indonesia tentang elektabilitas calon presiden di Sumatra Barat menunjukkan hasil yang mencolok. Dalam simulasi tiga nama, Prabowo Subianto memperoleh 60,2 persen suara, diikuti Anies Baswedan dengan 29,3 persen, sementara Gibran Rakabuming Raka tertinggal jauh pada angka 1,6 persen. Sebanyak 8,9 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Angka-angka itu tidak sekadar menunjukkan selisih. Ia membentuk kesan tentang dominasi yang nyaris tanpa celah.

Ketika sebuah lembaga survei memilih Sumatra Barat—wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Anies Baswedan—pertanyaannya bukan lagi semata “apa hasilnya”, melainkan: mengapa wilayah itu yang dipilih?

Baca Juga  DPRD Halmahera Tengah Desak Pemprov Malut Bayar Tunggakan DBH

Dalam politik, lokasi bukan kebetulan. Ia adalah keputusan. Dan ketika hasilnya menampilkan Prabowo Subianto unggul jauh, pesan yang tersirat pun menjadi terang: bahkan di lumbung suara lawan, kekuasaan tetap menang.

No More Posts Available.

No more pages to load.