Oleh A. Malik Ibrahim, Politisi dan penulis
Selembar surat yang dikirimkan Sultan Nuku kepada adiknya, Sultan Kamaludin di Tidore, bukan sekadar komunikasi kekuasaan. Ia adalah manifestasi visi politik, keberanian moral, dan kesadaran historis seorang pemimpin yang menolak tunduk pada kolonialisme. Dalam surat itu, Nuku tidak hanya mengabarkan aliansinya dengan Inggris, tetapi juga mendorong Tidore untuk tidak terjerat dalam ketakutan terhadap Kompeni Belanda—sebuah seruan halus namun tegas untuk membebaskan diri dari dominasi asing.
Sikap itu bukan tanpa dasar. Dalam pandangan Nuku, Kesultanan Tidore bukanlah entitas yang layak menjadi boneka kekuasaan kolonial. Ia berdiri di atas prinsip kedaulatan yang utuh. Karena itu, perjuangannya bukan sekadar perebutan tahta, melainkan perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman imperialisme. Nuku tidak berperang demi kuasa, tetapi demi kemerdekaan.
Ironisnya, dalam arsip kolonial Belanda, Nuku justru dilabeli dengan berbagai stigma: pemberontak, perusuh, bahkan perompak. Labelisasi itu mencerminkan cara pandang imperial yang berusaha mereduksi makna perjuangan menjadi sekadar gangguan terhadap “ketertiban”. Padahal, sejarah tidak sesederhana itu. Sejarah Nuku bukanlah kisah kering yang dapat dipenjarakan dalam narasi kolonial.










