Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Dalam beberapa tahun terakhir, coffee shop tumbuh hampir di setiap sudut kota. Dari jalan utama hingga gang-gang kecil, dari pusat metropolitan hingga kota-kota yang dahulu terasa lengang, kedai kopi bermunculan dengan kecepatan yang sulit diabaikan.
Fenomena bermunculannya coffee shop yang bak jamur di musim hujan itu, menghadirkan pertanyaan sederhana. Mengapa orang rela mengeluarkan puluhan ribu rupiah untuk seseruput kopi yang sesungguhnya bisa diseduh sendiri di rumah dengan biaya jauh lebih murah? Jika yang dicari semata rasa kopi, tentu dapur rumah sudah lebih dari cukup. Namun kenyataannya, orang tetap datang, duduk berjam-jam, berbincang, bekerja, membaca, atau sekadar memandangi lalu-lalang kehidupan dari balik jendela kaca.
Jika kita hanya melihat secangkir kopi, kita pantas bertanya: mengapa harus membeli kopi mahal di luar, padahal bisa menyeduhnya sendiri di rumah? Namun ketika kita melihat manusia di balik cangkir itu, pertanyaannya berubah menjadi: apa sebenarnya yang sedang dicari orang-orang itu?
Di titik itu, kopi tidak lagi menjadi persoalan minuman. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami perubahan masyarakat Indonesia. Kita sedang menyaksikan lahirnya kelas urban yang semakin besar, semakin terkoneksi secara digital, tetapi pada saat yang sama semakin membutuhkan ruang perjumpaan fisik. Mereka ingin terhubung, tetapi juga ingin membangun identitas.
Ledakan kemunculan coffee shop yang bak jamur di musim hujan lebih tepat dibaca sebagai cerita tentang perubahan sosial daripada sekadar cerita tentang kopi.
Sebagaimana mal pada dekade 1990-an pernah menjadi simbol sebuah zaman, dan media sosial menjadi simbol pada dekade 2010-an, maka coffee shop adalah salah satu simbol sosial Indonesia pada dekade ini.









