Oleh: Yusuf Blegur, Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS)
“Walau langit akan runtuh, MBG harus tetap berjalan”.
Akankah MBG menjadi klimaks atau antiklimaks kekuasaan Prabowo? Program MBG bukan sekadar legasi. Bukan juga hanya sebagai ajang konsolidasi politik dan ekonomi menghadapi pilpres 2029. Prabowo dan MBG adalah satu kesatuan, bagaikan dua jiwa yang tak bisa dipisahkan
Terakumulasi berdasarkan Data Surveilans Kementerian Kesehatan RI per 2 September 2026, program MBG telah menimbulkan korban keracunan, utamanya pelajar sebanyak 50.059 dari 560 kejadian di 36 provinsi. Bukan peristiwa biasa, bukan angka yang sedikit, dan bukan kesalahan yang sepele. Ini kejadian luar biasa yang tak lagi bisa ditolerir baik dari aspek etika, moral, dan hukum.
Mengacu refleksi dan evaluasi terhadap perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan serta pengawasan yang tidak kunjung menghasilkan perbaikan dari program MBG selama hampir 2 tahun. Sungguh memprihatinkan, selain korupsi yang terstruktur, sistematis, dan masif. Korban keracunan MBG jika dibiarkan berlarut-larut dan terjadi berulang-ulang, bukan tidak mungkin dapat menyebabkan kematian bahkan bisa menjadi kejahatan yang selain massal juga bersifat genosida.








