Abu Jatuh, Suara Berhamburan

oleh -81 Dilihat

Percakapan mengenai sebaran abu Gunung Anak Krakatau setidaknya memperlihatkan lima kecenderungan suara publik.

Pertama, suara pengalaman langsung dari warga yang menyaksikan abu menempel di pekarangan, kendaraan, dan fasilitas umum. Pengalaman itu membuat fenomena gunung api di Selat Sunda yang semula terasa jauh mendadak menjadi urusan halaman rumah.

Kedua, suara kecemasan, antara lain ditandai oleh meningkatnya pencarian dan pembelian masker di sejumlah tempat. Ketika sesuatu yang semula hanya diberitakan di layar mulai dicari di apotek dan toko, ancaman itu telah berubah dari informasi menjadi pengalaman sosial.

Ketiga, suara praktis dari publik yang membutuhkan petunjuk konkret. Tentang masker apa yang efektif, bagaimana membersihkan rumah dan kendaraan, apakah anak-anak perlu dibatasi aktivitasnya, dan kapan seseorang perlu memeriksakan diri.

Dalam keadaan seperti ini, masyarakat tidak terutama membutuhkan istilah teknis, melainkan pengetahuan yang dapat segera dipakai.

Baca Juga  Golkar Undang Prabowo Hadiri HUT ke-62 di Bandung, Siapkan 620 Ribu Paket Sembako untuk Rakyat

Keempat, suara skeptis yang mempertanyakan batas antara alarm bahaya dan bahaya yang sebenarnya. Sikap skeptis semacam ini tidak selalu buruk. Ia justru diperlukan agar peringatan publik tidak berubah menjadi pembesaran ancaman.

No More Posts Available.

No more pages to load.