Agama dan Perdamaian di Tanah Papua

oleh -13 Dilihat

Misi Profetik dan Keteladanan

Para pendakwah agama (mubaligh, zendinger, missioner) sangat mengetahui struktur dan watak sosiologis manusia Papua, sehingga proses da’wah maupun evangelisasi berlangsung secara damai ( penetration pacifique). Tetapi pada perkembangannya, kehadiran para pendakwah agama di Tanah Papua sering kurang memahami watak kebudayaan penduduk lokal Tanah Papua yang secara kodrati menjadi bagian tak terpisahkan dengan kehidupannya. Nilai-nilai adat berupa toleransi, kepemimpinan, aturan pergaulan, pembagian kesempatan ekonomi, pelayanan kesejahteraan warga, pegangan religius yang terungkap dalam pelbagai seremoni adat, biasanya kurang dihargai. Para pendakwah agama ini terlihat hidup dalam kecukupan dan terkesan eksklusif di tengah-tengah keterasingan umatnya. Metode misi (dakwah) yang dibawanya berlawanan dengan situasi dan kondisi sosial-lokalnya. Menjadikan agama sebagai lahan bisnis pribadi. Pengajaran Kitab Suci dan cara beragama tidak mencirikan dimana mereka berada.

Baca Juga  Motif Listyo

Dalam praktek beragama, mereka menyeting cara beragama harus sama dengan zaman datangnya dan atau setidaknya mirip dengan kondisi sosial tempat agama itu diturunkan. Padahal agama, misalnya Islam tidak identik dengan dunia Arab, demikian pula Kristen (Protestan dan Katolik) tidak identik dengan Nazareth (Israel) dan Barat (Romawi).

No More Posts Available.

No more pages to load.