Dan pagar-pagar batu di sekeliling kampung, tak dibangun sebagai benteng. Melainkan sebagai penanda bahwa masa lalu masih hidup. Tidak dalam museum, tapi di bawah telapak kaki sehari-hari.
Namun Amarsekaru bukan sekadar penjaga sunyi. Ia adalah luka yang telah menjelma tombak.
Di balik danau yang diam dan batu-batu yang berjaga, tersimpan kisah tentang api. Tentang masa-masa ketika tanah ini tidak cukup kuat menahan amarah.
Kala itu.. Saat laut berkabut oleh layar-layar asing, ketika kapal-kapal bertanda VOC menyusur gelombang dengan niat mencengkeram, Seram Timur menjadi gugus nyala. Tidak terbakar, tapi menyala. Tidak seragam, tapi sejiwa.
Dan dari salah satu simpul itulah Amarsekaru menjulang. Bukan karena kuasa, tapi karena kesetiaan yang tak gentar dicatat atau dihapus.
Nuku datang bukan sekadar sultan dari Tidore. Dia adalah gelombang yang menghidupkan tanah-tanah, yang selama ini dipetakan sebagai “terlalu kecil untuk berperan”.
Ia tidak memerintah dengan titah, melainkan dengan restu yang tumbuh dari luka bersama. Dan Amarsekaru menjawab, bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai saudara dalam takdir.
Ia hadir dalam perang besar di Kali Ondor: Battle of Gorom. Bersama negeri negeri Seram timur lainnya
bukan dengan bendera, tapi dengan tubuh dan sumpah.









