Amarsekaru: Simpul Sunyi di Tanah Manawoku

oleh -455 views

Pertempuran itu. Yang oleh penjajah dicatat dengan rasa takut. Sungai yang biasanya membawa bayangan tenang, menjelma aliran murka.

Orang-orang Amarsekaru datang bukan hanya dengan parang, Tapi dengan siasat yang lahir dari pengetahuan akan angin, akar, dan arah panah.

Belanda tidak sekadar dikalahkan. Mereka diusir bersama luka paling dalam, melalui tangan-tangan yang tak belajar perang dari buku. Tapi dari gelap dan sabar.

Dan ketika bunyi senapan terakhir surut di Sungai Ondor. Amarsekaru kembali ke heningnya.
Tidak menuntut dicatat. Tidak meminta diabadikan.

Sebab di tanah ini, kehormatan bukanlah apa yang diumumkan, melainkan apa yang diwariskan secara bisu. Melalui tatapan orang tua, melalui posisi tidur bayi di ayunan, melalui batu-batu yang diletakkan diam di tepi laut.

Baca Juga  AS Serang Iran di Selat Hormuz, Ketegangan Memanas di Tengah Upaya Negosiasi

Amarsekaru tidak pernah menjadi pusat cerita. Tapi ia adalah urat yang memberi darah. Dan tak ada pusat yang bisa berdiri, jika urat-urat seperti ini tak lagi mengalirkan ingatan. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.