- Irlandia Utara: Kota-kota seperti Belfast terbelah antara Katolik dan Protestan selama konflik “The Troubles”. Meski perdamaian dicapai lewat Perjanjian Jumat Agung (1998), banyak sekolah dan lingkungan masih bersifat segregatif, dan ketegangan etno-religius tetap hidup dalam bentuk baru.
- Bosnia-Herzegovina: Pasca perang etnis-religius 1990-an, kota seperti Mostar masih menyisakan segregasi antara komunitas Muslim Bosniak dan Kristen Kroat. Sekolah-sekolah ganda bahkan masih eksis, di mana anak-anak diajarkan kurikulum berbeda berdasarkan etnis dan agama.
- India: Beberapa kota seperti Ahmedabad dan Delhi mengalami segregasi agama pasca kerusuhan besar. Permukiman seperti Juhapura (muslim) dan daerah-daerah Hindu mayoritas hidup berdampingan namun secara sosial terpisah — rentan terhadap mobilisasi massa saat konflik muncul.
Mencari Jalan Tengah: Dekonstruksi Damai
Segregasi di Ambon bukan mustahil untuk diatasi, namun membutuhkan upaya yang berani dan kolaboratif. Pemerintah kota dan provinsi, bersama tokoh agama dan masyarakat sipil, perlu membangun ruang-ruang lintas iman secara aktif — bukan sekadar simbolik. Pendidikan multikultural, forum anak muda lintas agama, dan kebijakan pembangunan yang menjembatani zona segregatif bisa menjadi langkah awal.
“Damai bukan sekadar tidak adanya konflik, tapi hadirnya keadilan dan relasi sosial yang terbuka,” kata Nurhayati Rahamnan, aktivis lintas iman dari Ambon. “Kita butuh membongkar tembok-tembok yang dibangun oleh ketakutan masa lalu,” tukasnya.
Penutup:
Ambon hari ini adalah kota yang pulih, tapi belum sepenuhnya sembuh. Damai yang bertahan dua dekade ini adalah prestasi, namun jangan sampai menjadi kenyamanan semu yang menyembunyikan luka sosial yang masih terbuka. Karena kota yang terus memelihara garis batas, cepat atau lambat bisa kembali terbelah — bukan oleh senjata, tapi oleh prasangka yang dibiarkan tumbuh. (Tim)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News










