“Tapi tentu ada yang terbaik ada yang terburuk. Namun atas saran dari Kemendagri dan Kementerian Agama, sebaiknya kota-kota yang terburuk tidak perlu dikasih penghargaan, makanya kita tidak undang disini,” ungkapnya.
Kendati demikian, lanjut dia, mereka para kota yang memiliki nilai buruk toleransi jelas butuh pembinaan dari otoritas negara. Kalau setara Institute tentu bisa jadi teman bisnis, namun tidak mungkin membina.
“Makanya kami serahkan kepada Kementerian Dalam Negeri dan kementerian Agama, untuk memastikan proses-proses perbaikan toleransi, agar terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” tandasnya.
Sementara itu, Walikota Ambon, Richard Louhenapessy usai menerima penghargaan mengatakan, toleransi saat ini di Indonesia merupakan barang mahal.
Oleh karena itu, isu dan fokus yang dilaksanakan Setara Institut merupakan invenstasi jangka panjang Indonesia. Ambon dan masyarakatnya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas program yang begitu strategis itu.
“Ini bukan saja untuk dimensi jangka pendek, akan tetapi juga untuk jangka panjang .Saya kira untuk hal ini, saya dan masyarakat kota Ambon patut memberikan apresiasi, yang setinggi-tinggi kepada Setara Institut karena telah memberikan penilaian objektif, independen bagi kota Ambon”tutup Walikota.









