Ambon Undercover: Geliat Prostitusi Online di Tengah Pandemi via Aplikasi MiChat

oleh -1.520 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Praktik prostitusi daring atau online yang menawarkan jasa pemesanan melalui jejaring sosial MiChat tampaknya marak di tengah pandemi Covid-19.

Saat pemerintah Kota Ambon tengah berjuang keras melawan Covid-19, praktik prostitusi online menggunakan aplikasi MiChat justru marak di kota musik dunia yang berjuluk manise ini.

Dalam senyap, bisnis prostitusi berbalut aplikasi MiChat tumbuh begitu subur di kota ini. Dengan bermodalkan ponsel pintar, mereka yang ingin menjadi bunga latar, kini bisa melakukan transaksi tanpa harus memiliki perantara, germo atau muncikari.

Mereka bahkan tidak butuh lokalisasi semacam Tanjung Batumerah yang sudah ditutup oleh pemerintah kota Ambon beberapa waktu silam.

Panggung persundalan berbalut aplikasi MiChat, ibarat fenome gunung es. Tampak terlihat begitu kecil, namun sedianya menyimpan banyak praktik pelacuran.

Yang membuat dada cukup berdegup kencang dan geleng kepala, di balik bisnis senyap lintas dunia maya itu banyak dijalankan para perempuan yang masih berusia belasan tahun.

Tidak sedikit di antara belia itu masih menyandang status anak di bawah umur. Misalnya, dua orang remaja perempuan yang sama-sama masih berusia 16 tahun, Sisca dan Anggel.

Kepada media ini, Sisca tanpa sungkan mengakui, kalau dia memang menyewakan jasanya kepada para lelaki. Praktik menjajakan tubuh kepada pria hidung belang itu diakui perempuan berambut pirang itu telah cukup lama ditekuninya.

Untuk bisa mendapatkan jasa servis dari perempuan belia dengan kulit putih mulus itu, memang tidak murah. Untuk satu kali ajakan berkencan dan berhubungan layaknya suami istri, Sisca mematok tarif tidak kurang dari Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Itu di luar ongkos penginapan atau hotel.

“Biasanya, awalnya saya tawarkan Rp1 juta ke atas, tapi kadang mereka (laki-laki) menawar, dan jatuhnya ke harga kesepakatan di Rp800 ribu,” ucap Sisca kepada wartawan Porostimur.com, Selasa (16/3/2021).

Berpenghasilan Puluhan Juta

Tanpa rasa sungkan, Sisca bertutur, dia terjun ke dunia protitusi online berawal dari pergaulannya teman sebayanya dan lingkungan yang terbilang bebas, hingga akhirnya memberanikan diri untuk menjajakan tubuh moleknya.

Baca Juga  Pemerintah Kota Tual dan Malra Dinilai Buat Panik Masyarakat

“Awalnya sering ikut-ikut teman, jalan kemana-mana, tidur di hotel, kebetulan saat itu teman saya juga ada yang BO (booking out), lantaran melihat teman bisa punya uang banyak dari situ saya mulai ikut juga,” kisahnya.

Selain itu, faktor lain yang membuat Sisca terjun ke lembah gelap itu, tak terlepas dari perseolan keluarganya. Hal yang juga mencengangkan, Sisca berkata, kalau dirinya tumbuh dari lingkungan keluarga yang mapan Di mana, kedua orang tuanya cukup terpandang di daerah ini.

“Ibu dan bapak juga keluarga tidak tahu saya begini, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, jadi mungkin karena kurang kasih sayang dan perhatian orang tua, jadilah saya begini,” terangnya.

Dari hasil menjajakan tubuhnya, Sisca mengaku dapat menghasilkan pundi-pundi uang di atas Rp50 juta rupiah perbulannya. Uang sebanyak itu didapatkannya dari melayani 3 hingga 5 pria setiap harinya.

“Saya enggak hitung kalau sebulan dapat berapa, yang jelas lebih dari Rp50 juta. Tapi tidak semata-mata demi uang sih. Ya anggap saja senang-senang karena masih muda dan sebagai pelarian aja” ucapnya.

Diakui Sisca uang yang ia dapat biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, Sisca merupakan tipikal perempuan yang gemar menggonta-ganti handphone dan punya hobby shoping, dan itu selalu dilakukan.

“Uangnya ya buat sehari-hari, kebetulan saya suka ganti-ganti handphone, jadi hampir setiap bulan saya beli handphone. Yang terakhir saya kemarin beli handphone harga puluhan juta, juga buat shoping dan kongkow bareng teman-teman,” ujarnya.

Prostitusi Aplikasi MiChat Sudah Berlangsung 6 Bulan

Sisca pun bercerita keluh kesahnya selama 6 bulan menjadi penyedia prostitusi online. Ia berkata, dirinya sering kali mendapat pria yang nyeleneh, dengan permintaan yang aneh-aneh dan juga sering kali di PHP (pemberi harapan palsu) di aplikasi Michat.

Baca Juga  Melaut sejak Sabtu, Nelayan hilang kontak dan belum ditemukan

“Ya banyak juga yang awalnya mau pakai saya di aplikasi, pas saya tunggu enggak datang-datang, terus ada juga waktu di dalam kamar, mereka minta yang aneh-aneh,” tuturnya dengan wajah yang sedikit tersipu malu.

Selain cerita yang nyeleneh, Sisca berujar, banyak juga pria yang telah memakai jasanya, mengajaknya untuk menikah, namun dia hanya menanggapi dengan santai. Lantaran ia tahu pria yang menggunakan servisnya hanya menebar jala janji-janji manis, modus belaka.

“Ya kalau ada yang ajakin nikah, paling saya jawab chat-nya “hmmmmm” aja,” tuturnya dengan senyum tipis menyungging di wajahnya.

Dari banyaknya pria yang pernah bertransaksi dengannya, ia menerangkan ada juga oknum aparat yang memakai jasanya. “Kemarin ada anggota pakai seragam lengkap datang ngajak, ya saya enggak mau mandang dia siap, asalkan di bayar ya saya layani,” ucapnya.

Gadis manis ini mengaku bahwa orang tuanya termasuk orang berada. Ia bercerita bahwa orang tuanya sempat menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari salah satu partai besar saat pemilihan legislatif (pileg) beberapa tahun lalu. “Iya ibu saya pernah jadi caleg tapi waktu itu gagal,” ungkapnya.

Sisca mengaku saat ini nyaman dengan pekerjaannya. Ditanya apakah akan berhenti dari bisnis persundalan itu, Sisca hanya menjawab untuk saat ini belum ada kepikiran untuk ke arah situ. Dia merasa masih menikmati apa yang ia lakukan saat ini.

“Kalau sekarang belum ada niat berhenti, tapi enggak tahu ya ke depan, soalnya dibilang capek ya saya akui capek juga kerja seperti ini,” pungkas dia menutup kisahnya kepada wartawan media ini.

Digandrungi ABG dan Mudah Mendapatkan Uang

Bisnis prostitusi berbalut aplikasi MiChat di kota ini , tidak hanya menyeret Sisca. Remaja lain yang juga masih berusia belasan tahun dan ikut dalam bisnis persundalan online itu, yakni Anggel. Di usianya yang masih begitu beliau, 16 tahun, dia telah menjajakan dirinya kepada para pria pemburu kupu-kupu malam.

Baca Juga  Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Utang Luar Negeri Terbesar di Dunia

“Awalnya saya dulu kabur dari rumah, dan ikut teman yang tinggal di penginapan, sesampainya di penginapan, ternyata teman saya itu cewek BO di MiChat, karena saat itu saya tidak ada uang, saya akhirnya ikut-ikutan,” ucap Anggel membuka obrolan dengan wartawan media ini.

Anggel yang masih duduk di bangku sekolah itu, mengaku baru beberapa bulan ikut menjajahkan dirinya kepada pria hidung belang. Berbeda dengan Sisca, Anggel berkata, hanya sesekali melayani para pria yang ingin menikmati tubuhnya.

“Enggak banyak, sehari kadang cuma sekali, yang penting saya megang uang saja,” ucapnya.

Dalam menjalankan praktik prostitusi online di MiChat, Anggel terbilang cukup tertutup. Dia bahkan semaksimal mungkin mencoba menutupi rapat-rapat setiap apa yang dia lakukan. Namun demikian, setiap di rumah, dia merasa tidak begitu nyaman. Kerap berselih paham dengan orang tua atau saudara yang lain.

“Kalau saya keluar rumah, biasanya saya sering dicari sama keluarga. Cuman saya merasa nyaman aja bisa hidup bebas di luar, makanya saya tidak ingin pulang ke rumah. Lebih enak bebas dari pada di rumah,” demikian kisah Anggel dengan nada dingin mengakhiri pembicaraan dengan media ini.

Apap pun itu, perhatian orang tua dalam menuntun anak mereka sangat diharapkan. Saat ini banyak para orang tua yang masih memberikan kebebasan kepada anak, hingga tidak dapat mengontrol pergaulan sang anak. Peran dari pemerintah juga dirasa penting untuk dapat mengatasi human trafficing yang kian meraja rela.

Tindakan nyata harus lah dari para orang tua, dalam mendidik dan memantau pergaulan sang anak, ditambah lagi peran pemerintah yang dapat memberikan kebijakan agar prostitusi anak di bawah umur tidak lagi terjadi. (tim)

No More Posts Available.

No more pages to load.