Amien Rais, Api yang Dipantik—Perlukah Kita Membiarkannya Membesar?

oleh -29 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Riuh itu datang seperti biasa—cepat, menggema, lalu memecah ruang publik menjadi dua kutub: percaya dan menolak. Di tengah pusaran itu, Amien Rais kembali memainkan peran lamanya: pemantik.
Ia menyentuh sesuatu yang selama ini hidup sebagai bisik-bisik—tentang relasi di lingkar kekuasaan yang dianggap “tak biasa”. Seketika, percikan itu berubah menjadi api yang menjalar ke mana-mana.

Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak: apakah semua api harus dibiarkan membesar?

Pertanyaan ini bukan soal membela atau menolak isi pernyataan. Ini soal bagaimana sebuah bangsa merawat kewarasannya ketika dihadapkan pada isu yang sensitif, belum terbukti, tetapi telanjur menggoda emosi publik. Ketika yang disentuh adalah figur seperti Presiden Prabowo Subianto dan lingkar terdekatnya—termasuk Sekertaris Kabinet Letkol. Teddy Indra Wijaya—maka setiap kata tidak lagi ringan. Ia membawa konsekuensi politik, sosial, bahkan keamanan.

Kita harus jujur: ada kegelisahan publik yang nyata. Banyak yang merasa ada hal yang “tidak beres”, entah karena kedekatan personal, distribusi peran, atau perubahan aturan yang dianggap memberi ruang privilese. Para pengamat telah lama menyorotnya. Namun kegelisahan itu tidak selalu mendapat jawaban yang memadai. Di ruang kosong itulah rumor tumbuh—subur, liar, dan sulit dikendalikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.