Porostimur.com, Teheran – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Garda Revolusi Iran menyebut Presiden AS Donald Trump kini berada dalam posisi sulit, yakni memilih antara operasi militer yang dinilai “mustahil” atau menerima kesepakatan yang dianggap merugikan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah mandeknya proses negosiasi antara kedua negara sejak gencatan senjata diberlakukan pada 8 April 2026. Hingga kini, baru satu putaran pembicaraan langsung yang terlaksana.
Proposal Iran Diragukan AS
Media Iran melaporkan Teheran telah mengajukan proposal 14 poin melalui mediator Pakistan. Namun, Trump langsung meragukan isi proposal tersebut.
“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya tidak dapat membayangkan itu akan dapat diterima,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Ia menilai Iran belum menunjukkan tanggung jawab atas tindakan masa lalu yang menurutnya berdampak besar bagi dunia internasional.
Sementara itu, laporan media AS menyebut proposal tersebut mencakup batas waktu satu bulan untuk mencapai kesepakatan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade angkatan laut AS, serta pengakhiran konflik di Iran dan Lebanon secara permanen.









