Oleh: Moksen Idris Sirfefa,
“Identity is people’s source of meaning and experience” (Manuel Castells)
EMPAT hari pasca pencapresan oleh Partai Nasdem, Anies Rasyid Baswedan menghadiri undangan pernikahan anak Habib Rizieq Syihab (HRS) sekaligus peringatan Maulid Nabi SAW, di Petamburan Jakarta. Lawan politik ramai-ramai ngetwit wacana politik identitas. Niluh Djelantik, Ketua Departemen Bidang UMKM Partai Nasdem langsung menyatakan diri keluar dari kepengurusan partai besutan Surya Paloh itu. Salah satu petinggi Partai Demokrat (partai potensial koalisi Nasdem) juga mewanti-wanti agar Anies tidak membawa-bawa politik identitas.
Para buzzer optimis bahwa jualan isu politik identitas cukup efektif untuk menjatuhkan citra Anies karena isu Formula E gagal digoreng. Mengapa politik identitas dipakai untuk melawan Anies? Karena di pemahaman mereka, politik identitas identik dengan diskriminasi rasial, intoleran, radikal, ekstrim, dan (lebih celaka lagi) merupakan identitas politik Islam.
Dalam framing kelompok ini, politik identitas mengerikan dan berbahaya. Politik identitas harus dilawan, karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Wacana politik identitas dibangun oleh mereka dengan tujuan memunculkan trauma dan ketakutan politik (political fear) bagi para followers dan vooters Anies yang mayoritas kelas menengah kota.








