Ada pihak yang menyisakan rasa syukur dengan pernyataan Jokowi. Termasuk saya sendiri. Bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu, di Pilpres 2024 ini tak akan netral. Tak akan tinggal diam. Dengan segala kekuatan yang dimiliki, ia siap memenangkan Prabowo dan Gibran di pesta demokrasi lima tahunan nanti. Kandidat yang lain cukup jadi capres dan cawapres saja. Jangan sampai ke Istana.
Saya amat bersyukur. Bahwa Jokowi sebagai presiden kini tak lagi abu-abu, tak lagi malu-malu menyampaikan bahwa ia tak akan netral tersebut. Bahwa ia akan ikut kampanye untuk Paslon 02. Bahwa ia akan berpihak pada pasangan, meminjam bahasa Majala Tempo: Produk Gagal Reformasi dan Anak Haram Konstitusi.
Pada akhirnya nanti, dan pasti, sejarah akan mencatat bahwa Jokowi adalah Presiden Indonesia terburuk setelah reformasi. Perongrong konstitusi. Penebas demokrasi. Sosok yang dengan sadar dan tega mengakali sistem politik yang susah payah dijujung sejak reformasi.
Akhirnya, dari kenyataan tersebut. Pernyataan yang kini paling tepat ditulis dan disampaikan adalah, segala elemen lembaga di bawah komando kepala negara, yang langsung atau tidak langsung, tak mungkin juga melaksanakan misi suci netralitas di Pemilu 2024 ini.









