Alasan di balik tindakan tersebut menunjukkan kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Beliau berkata:
“Ketahuilah, perkara yang kalian lakukan itu tidaklah tersembunyi bagiku, akan tetapi aku khawatir akan dicatat sebagai kewajiban bagi kalian nantinya.”
Sejak saat itu hingga wafatnya Nabi SAW, Qiyam Ramadan dilakukan secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil, bukan berjamaah secara masif di bawah satu imam.
Jumlah Rakaat Salat Tarawih Nabi SAW
Mengenai jumlah rakaat, hadits dari Aisyah RA dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih memberikan gambaran jelas:
“Rasulullah SAW tidak pernah menambah (baik dalam bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan lainnya) dari 11 rakaat.”
Pola pelaksanaannya adalah 4 rakaat, kemudian 4 rakaat dengan kualitas bacaan yang panjang dan bagus, ditutup dengan 3 rakaat witir.
Munculnya Istilah “Tarawih” di Masa Umar bin Khattab
Istilah Tarawih baru muncul secara resmi ketika Umar bin Khattab RA menjabat sebagai Khalifah. Sejarah ini dicatat dalam kitab Qiyam Ramadhan oleh Imam Al Marwazi.
Dikisahkan dalam buku Pesona Ibadah Nabi karya Ahmad Rofi Usmani, suatu malam Umar melihat para sahabat salat berpencar-pencar di Masjid Nabawi. Umar kemudian berinisiatif menyatukan mereka di bawah satu imam agar lebih tertib.
Beliau kemudian menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam salat berjamaah tersebut. Pada masa Khalifah Umar inilah, jumlah rakaat dikerjakan sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sebagaimana merujuk pada kitab Tharh at-Tatsrib oleh Al Iraqi.









