Ramadan: Jalan Pulang yang Sunyi

oleh -3 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ramadan sering datang seperti cahaya yang jatuh perlahan di lantai kamar, tanpa suara. Tidak ada yang berubah secara tiba-tiba, tetapi udara terasa berbeda. Di sela kesibukan yang panjang, ada ruang kecil yang terbuka—ruang yang mengajak kita duduk sebentar, menarik napas, lalu bertanya pelan: sudah sejauh apa langkah kita dari rumah?

Ramadan bukan bulan yang gaduh. Ia tidak memerlukan panggilan yang riuh, sebab ia tumbuh dan bekerja dalam kesunyian hati: pada sahur yang temaram, pada azan yang menembus senja, pada doa-doa yang dilafalkan tanpa suara. Di situlah ia bergerak—perlahan, nyaris tak terasa—mengikis kerasnya hati, seperti air yang setia menetes di batu.

Baca Juga  Lantik 224 Pejabat Pemkot Ambon, Bodewin Wattimena Tegaskan Merit System dan Integritas Birokrasi

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan menahan diri dari segala yang berisik di dalam dada: amarah yang mudah menyala, iri hati yang diam-diam tumbuh, kesombongan yang tak terlihat, dan luka-luka lama yang tidak pernah diberi waktu untuk sembuh. Kita menahan diri dari yang halal—dari makan, minum, dan hasrat yang dibolehkan—agar hati punya kekuatan meninggalkan yang haram, yang selama ini sering luput dari kesadaran.

Di malam hari, langkah-langkah menuju masjid terdengar lebih pelan. Saf-saf tarawih berdiri rapi, tubuh-tubuh yang lelah oleh dunia perlahan menunduk, seolah menemukan tempat untuk beristirahat di hadapan Tuhan.

No More Posts Available.

No more pages to load.