Masa kecil dan remajanya dijalani di Maluku dan Papua. Di kawasan timur Indonesia itulah ia bersentuhan dengan realitas yang kelak menjadi bagian dari narasi politiknya: keterbatasan akses, kehidupan masyarakat kepulauan, dan perjuangan ekonomi masyarakat kecil.
Ia pernah menjalani berbagai pekerjaan sebelum menjadi pejabat negara.
Berjualan, menjadi kondektur dan sopir angkutan kota bukan sekadar catatan kecil dalam biografinya. Fase itu menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian kerap dibawa Bahlil ketika berbicara mengenai masyarakat bawah dan pembangunan kawasan timur.
Namun, pengalaman hidup tersebut tidak membuatnya berhenti pada keadaan.
Bahlil masuk STIE Port Numbay, Jayapura, Papua.
Kampus kemudian menjadi pintu pertama menuju dunia yang lebih luas.
Ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah dipercaya menjadi Ketua Dewan hingga Ketua Senat Mahasiswa STIE Port Numbay.
Dari sana, ia masuk ke Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Pada 2002–2004, Bahlil dipercaya sebagai Bendahara Umum Pengurus Besar HMI.
Organisasi mengajarkannya sesuatu yang tidak selalu didapat di ruang kuliah: bagaimana membangun jaringan, membaca kepentingan, mengelola perbedaan dan bernegosiasi.
Kemampuan itu kelak menjadi penting ketika ia memasuki dunia usaha.









