Ada investasi yang harus dijaga. Ada kepentingan masyarakat yang harus diperhatikan. Ada lingkungan yang harus dilindungi. Ada tenaga kerja lokal yang menunggu kesempatan. Dan ada daerah penghasil yang berharap tidak sekadar menjadi tempat sumber daya diambil.
Bahlil memahami persoalan tersebut dari dua sisi.
Sebagai pejabat pusat, ia berbicara atas nama kebijakan energi nasional.
Sebagai orang yang lahir di Maluku, ia membawa identitas kawasan timur yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di sinilah Blok Masela menjadi lebih dari sekadar proyek gas.
Ia menjadi salah satu ujian apakah narasi pembangunan Indonesia Timur benar-benar dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah asal sumber daya.
Dari Pinggiran ke Pusat Kekuasaan
Perjalanan Bahlil Lahadalia memang tampak seperti kisah mobilitas sosial yang luar biasa.
Dari keluarga sederhana.
Dari Banda.
Dari Maluku dan Papua.
Dari berjualan, menjadi kondektur dan sopir angkutan kota.
Kemudian masuk kampus.
Masuk organisasi mahasiswa.
Masuk dunia usaha.
Memimpin HIPMI.
Masuk pemerintahan.
Menjadi Menteri Investasi.
Lalu Menteri ESDM.
Dan akhirnya berada di pucuk Partai Golkar.
Tetapi keberhasilan mencapai puncak kekuasaan bukanlah akhir cerita.
Justru di situlah pertanggungjawaban dimulai.









