“Pokdarwis harus mampu beradaptasi dengan era digital. Mereka menjadi motor penggerak masyarakat dalam mengelola destinasi, mempromosikan potensi wisata melalui media digital, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal,” ujar Budi.
Dari Kampung, Ekonomi Wisata Digerakkan
Menurut Budi, desa wisata merupakan kawasan yang memiliki daya tarik khas dan dikelola dengan mengintegrasikan teknologi digital, konektivitas, inovasi layanan, promosi serta pengalaman wisatawan.
Namun, seluruh perkembangan tersebut harus tetap berjalan tanpa menghilangkan karakter budaya masyarakat setempat.
Pemerintah sendiri mengelompokkan desa wisata ke dalam empat kategori, yakni Rintisan, Berkembang, Maju dan Mandiri.
Pengembangan desa wisata juga menjadi bagian dari agenda pembangunan pariwisata karena dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menekan laju urbanisasi.
“Dengan berkembangnya desa wisata, peluang usaha masyarakat seperti homestay, kuliner, jasa pemandu wisata, hingga ekonomi kreatif akan tumbuh sehingga perputaran ekonomi tetap berada di desa,” katanya.
Menurut Budi, keberhasilan desa wisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang.
Lebih penting dari itu, masyarakat lokal harus mendapatkan manfaat langsung dan menjadi pelaku utama dalam rantai ekonomi pariwisata.









