Belajar dari Nyali Lafran Pane: Intelektual Konstitusi yang Menjaga Nyala Republik

oleh -643 views

Lafran Pane tidak pernah mati nyali. Ciattt, dia kembali terjun ke Batavia. Lalu hijrah ke Yogyakarta. Di sana dia menjadi mahasiswa.

Lalu—sebuah tindakan yang kelak mengubah lanskap sejarah—bersama kawan-kawan dia memproklamasikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947. Bukan di aula mewah. Tapi dengan “meminjam” jam kuliah Tafsir di Sekolah Tinggi Islam, Jalan Surjodiningratan.

HMI lahir bukan dari kemapanan. Namun ide yang lahir dari kegelisahan. Dari keberanian intelektual. Dari keyakinan bahwa Islam dan Indonesia bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua identitas yang saling menenun dan menguatkan.
Keislaman dan Keindonesiaan. Dua kata. Satu nyali.

Waktu berlalu. Lafran tidak mengejar jabatan. Dia justru redho melepaskannya. Hanya dia mencopot dirinya sendiri dari kursi Ketua Umum PB HMI demi kemajuan organisasi. Yang rela menjadi staf. Bahkan hanya sekretaris dua. Dalam politik hari ini, tindakan semacam itu nyaris terdengar fiksi.

Tapi itulah aselinya Pak Lafran: kekuasaan tidak pernah menjadi pusat hidupnya. Dia memilih jalur sunyi: akademisi. Intelektual otentik. Namun jangan salah. Sunyi bukan berarti jinak.

Baca Juga  Hilirisasi Dimulai, Awaiya Bersiap Jadi Pusat Baru Ekonomi Kelapa dan Pala Maluku

Pada 16 Juli 1970, di mimbar pengukuhan Guru Besar IKIP Yogyakarta, Lafran Pane melakukan sesuatu yang pada zamannya nyaris subversif. Di era “UUD 1945 yang murni dan konsekuen”, ketika kritik dianggap dosa politik, Lafran Pane justru berpidato tentang pembaruan konstitusi.

No More Posts Available.

No more pages to load.