Apa yang kita lihat dalam beberapa minggu terakhir ini adalah sebuah pertunjukan dari sebuah taktik politik yang sama. Ini sama sekali tidak mengejutkan untuk saya. Belajar dari pengalaman, saya yakin seyakin-yakinnya periode kedua dari sebuah kepresidenan akan dipenuhi oleh korupsi. Presiden tidak akan menghadapi pemilihan lagi. Baik dia maupun pendukungnya tahu persis itu. Ini adalah periode berpesta tanpa perlu harus mencuci piring sesudahnya dan menghitung beaya-beaya pesta.
Sama seperti pada saat Pilpres, taktik awalnya adalah mengeruhkan air. Orang-orang sederhana tidak disodorkan rasional-rasional yang jernih. Sebaliknya mereka disodorkan fakta-fakta yang sudah sangat terdistorsi. Saya mendapat banyak pertanyaan dari kolega dan sahabat saya. Sesungguhnya debat KPK itu bagaimana sih? Katanya KPK dikuasai oleh Taliban ya?
Cara para pendukung Jokowi mengeruhkan air ini sungguh efektif. Ketika kebingungan itu semakin mendalam, mereka keluar dengan solusi bahwa KPK harus diawasi. Bahkan saya melihat satu spanduk besar di sebuah stasiun kereta di Senayan yang berbunyi kira-kira, “KPK ternyata tidak bersih-bersih amat. Audit KPK lolos dengan wajar dengan pengecualian.”
Ada sebagian pendukung Jokowi dulunya adalah aktivis-aktivis anti-korupsi juga. Mereka pun sesungguhnya kebingungan juga. Namun, alih-alih menunjuk dengan tegas bahwa Jokowi ada dalam persekutuan untuk melemahkan pemberantasan korupsi, mereka menunjuk pada ‘pembisik’ atau ‘para pembantu yang tidak becus.’




