Porostimur.com, Ambon – Sebagian besar orang mengenal toxic relationship, toxic friendship dan seterusnya. Namun, ternyata ada yang namanya toxic positivity yang di mana kita terlalu berpikir positif sehingga berdampak adanya emosi, stres yang tidak tersalurkan karena berlindung dari kata “berpikir positif”.
Toxic positivity merupakan perilaku yang mendorong seseorang untuk berusaha keras berbuat dan berpikir positif hingga menekan emosi negatif keluar.
Beberapa contoh toxic positivity adalah seperti mengatakan kepada seseorang yang sedang berduka bahwa mereka harus “tetap tersenyum” atau “berpikir positif”, padahal itu dapat membuat orang tersebut merasa tidak dihargai atau ditekan untuk tidak bisa berbagi perasaannya dengan jujur.
Mengutip dari siloamhospital.com terdapat dampak buruk atau bahaya toxic positivity sebagai berikut:
1. Kesulitan Mengungkapkan Emosi
Berpikir positif adalah alibi seseorang untuk melindungi emosi negatifnya sehingga emosi yang seharusnya diselesaikan justru malah membuat individu tersebut merasa tidak nyaman dan merasa tertekan sendiri tanpa mampu meluapkannya.
2. Emosi yang Menumpuk
Dalam kondisi ini, ketika individu tidak berusaha untuk mengeluarkan emosinya, maka akan terjadi penumpukan emosi negatif yang dapat memicu gangguan seperti anxiety disorder, post traumatic disorder (PTSD), dan berbagai macam gangguan lainnya.










