Sementara itu, kelompok transportasi juga mencatat inflasi sebesar 0,24 persen, terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara dengan andil sebesar 0,03 persen. “Kenaikan tarif angkutan udara dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru 2025,” tambah Rawindra.
Secara tahunan, inflasi di Maluku pada November 2024 tercatat 2,23 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,13 persen. Meskipun lebih tinggi dari inflasi nasional yang berada di angka 1,55 persen, angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2024 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Rawindra menegaskan bahwa pengendalian inflasi di Maluku tidak lepas dari sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terus menjalankan berbagai program mitigasi inflasi, terutama pada komoditas pangan strategis.
“Berbagai langkah seperti pasar murah, gerakan pangan murah, operasi pasar, serta subsidi langsung kepada pedagang terus dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga, khususnya pada komoditas perikanan dan hortikultura,” ujarnya.
Selain itu, BI Maluku juga mendukung peningkatan produktivitas melalui pengembangan klaster pertanian dan perikanan, serta memperkuat pasokan dengan mendorong kerja sama antar daerah, baik antarprovinsi maupun di dalam provinsi. (red)









