“Bagaimana acaranya tadi Fa?, lancar? kamu betah nggak?“ Ibu memberondongku dengan pertanyaan sambil tangannya mengelap piring dari tempat cucian.
“yah begitu Bu, namanya juga baru pertama kali, mungkin masih butuh banyak penyesuian“ aku menyeringai
“Baguslah, mudah mudahan tidak ada kesuliatan nantinya ya, kalaupun ada semoga kamu bisa mengatasinya” Ibu mengelus punggungku dengan lembut.
Ibu benar, sejak kecil hidupku memang lempeng lempeng saja, tidak pernah aku menemukan masalah yang begitu berarti, di sekolah, di rumah ataupun di ingkungan tempat tinggalku, sepertinya ibu cukup khawatir jika suatu saat di tempat kerja aku menghadapi masalah apa aku bisa mengatasinya atau tidak.
“Malah melamun, sudah sana piringnya dibawa keluar, Bapak dan adikmu sudah menunggu di meja makan” Ibu kembali mencolek bahuku.
Ponselku berdering, sebuah nama terpampang di Notifikasi panggilan “Arif”, aku membiarkannya hingga berdering kembali untuk yang kedua kali, dan ketiga kalinya, Pak Naryo salah seorang staf di balai desa meledekku.
“Nggak diangkat mba Ulfa, kasihan itu pacarnya sudah mau ngobrol”
Aku tersipu, Pak Naryo suka ngarang nih, terpaksa aku angkat juga
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, Fa kamu nggak lupa kan hari ini jadwal pertemuan rutin Kecamatan” sahut suara di seberang sana.
“Ngga kok Mas, ini mau berangkat”
“Aku jemput ya”
“Eh nggak usah, aku naik angkot saja”
“Hari ini tempat pertemuannya di desa Tlaga, itu jauh lho, nggak ada angkutan ke sana”
Aku terdiam sejenak ada benarnya juga, tapi aku sedikit ragu, aku tidak terbiasa dibonceng laki laki asing, apalagi dia orang yang baru saja aku kenal
“Mmmm… nanti saja ya Mas, aku coba cari angkutan dulu”
“Hei, ngapain cari angkutan, aku sudah ada di depan kantor Fa..”
“Masyaallah…” kulongokkan kepala ke luar jendela, dan ternyata benar, dia sudah berdiri di samping motor, dia niat sekali ternyata, aku tersenyum sendiri.










