Bito Temmar Sebut Atapary atau Watubun, Layak Jadi Ketua DPRD Maluku

oleh -409 views
Link Banner

Porostimur.com – Ambon: Politisi Maluku yang juga merupakan mantan kader senior PDI-Perjuangan, Bito Silvester Temmar mengatakan, Banteng atau lebih tepatnya “banteng kekar” yang dikenal sebagai lambang PDI-Perjuangan adalah satu konsep metaforis untuk mengonstruksi karakter dasar partai tersebut.

Banteng kekar itu, kata dia, seperti yang bisa disaksikan dalam gambar, memiliki moncong putih untuk melukiskan “kejujuran dan kebenaran” perjuangan partai ini.

Tanduk untuk menggambarkan “keperkasaan” perjuangan. Mata merah untuk menggambarkan “keberanian” dan seterusnya.

Maka menurutnya, konsep metaforik seperti inilah yang mesti hadir dalam laku elit dan warga partai pada semua level dan jenjangnya.

“Bias laku, lagi-lagi kalau dikonsepsikan secara metaforik akhirnya seperti tedong atau kerbau. Fisikali, tedong terlihat penurut, permisif, lamban, malas, dan seterusnya,” tukas Temmar.

“Jadi kalau kemudian secara sangat disengaja saya gunakan tedong sebagai konsep metaforik untuk menilai realitas kawan-kawan petinggi PDI Perjuangan Maluku, sesungguhnya bisa berarti mengolok-olok, meremehkan, dan sebagainya. Tentu untuk menyadarkan bahwa ada situasi bias atau distorsi yang sedang terjadi di PDI Perjuangan Maluku. Dengan lain perkataan, karakter banteng kekar kok tidak hadir dalam laku aktual politik elit dan kader partai ini di Maluku,” imbuhnya.

Baca Juga  Siswi SMP di Namrole Dinikahi Ustaz, Teman-temannya dan Para Guru Gelar Aksi Protes Pernikahan Dini

Secara sederhana, sosok yang pernah malang-melintang di dunia akademis ini mengatakan, elit tertinggi partai ini dibully karena kosakata publik standar yang lazim digunakan dalam komunikasi publik malah tidak tereja setiap kali memberi pernyataan pers. Dan kesalahan elementer seperti ini terus berulang.

“Herannya tidak ada langkah apa pun untuk memperbaiki. Padahal, lambang metaforik partai ini mesti menuntun elit dan warga partai ini untuk menggelar misalnya komite disiplin guna memberi peringatan agar kesalahan elementer seperti ini diperbaiki. Atau misalnya, tahun lalu setiap hari kita menyaksikan head line di sejumlah koran lokal berita tentang laku seorang elit yang menjanjikan proyek, dan seterusnya,” ujarnya.

Bito bilang, seharusnya soal ini menimbulkan otokritik internal, sebab mereka yang memahami benar karakter dasar banteng kekar sebagai konsep metaforik tersebut harusnya meminta komite disiplin atau apa pun namanya untuk menggelar rapat atau sidang untuk meminta penjelasan.

Sehingga jika itu benar misalnya demi kehormatan partai, dikenakan sanksi. Atau jika tidak benar, misalnya dilakukan klarifikasi dstnya.

“Sayangnya, ada sikap permisif. Jadi dibiarkan issu tersebut tenggelam dalam perjalanan waktu. Tampaknya warga partai ini lupa, publik punya memori kolektif yang selalu merekam setiap peristiwa atau event publik. Boleh jadi, sikap permisif elit dan warga partai ini terhadap aneka perilaku bias yang dipertontonkan elit partai ini yang sering disebut “petugas partai” menimbulkan kekecewaan dan atau ketidakpercayaan publik,” tukasnya.

Baca Juga  Puisi-puisi Morika Tetelepta

Bitu menyebut, bentuk- bentuk kekecewaan, kedongkolan atau kemarahan itu hadir mewujud dalam aneka sikap resisten.

“Saya sendiri begitu terkejut bahwa di Kota Ambon sebagai basis utama partai ini, semua kantong atau enclove politiknya sudah berantakan. Tidak ada lagi di akar rumput sejumlah tokoh dan anak muda yang merasa bangga dengan atribut partai ini,” paparnya.

Menurut Bito, seharusnya elit partai ini bertanya secara retorik, mengapa akar rumput yang menjadi kekuatan utama partai ini sudah berantakan seperti ini.

“Saya tidak tahu karena saya sudah melupakan partai ini. Tetapi secara common sense, saya menangkap ada kegelisahan atau kekecewaan masif akar rumput sehingga rame-rame meninggalkan partai ini,” katanya.

“Beberapa tokoh akar rumput saya jumpai bertanya saya: Pak ada niat tidak kembali ke PDI Perjuangan?. Sambil tersenyum saya bilang, mari cerita sesuatu yang lebih berguna daripada bernostalgia yang tidak bermanfaat. Dengan tegas mereka mengatakan, kami tidak akan pernah kecewa untuk kesekian kalinya,” sambung Bito.

Baca Juga  Tim SAR Gabungan Laksanakan Operasi Pencarian Nelayan Asal SBT Yang Hilang

Lebih jauh menurutnya, kalau dia menghadirkan konsep metaforik tandingan “tedong” terhadap banteng kekar, sebenarnya sifatnya sangat evaluatif.

“Artinya saya mengingatkan elit dan warga partai ini bahwa sikap permisif terhadap laku bias para tokoh partai ini sebenarnya sudah telanjang diketahui publik. Dan reaksi negatif sudah hadir dalam kesadaran wacana publik. Soalnya elit partai ini memiliki derajad sensitifitas seperti apa dalam merespons reaksi negatif publik di Maluku saat ini?,” katanya.

Bito menambahkan, sekiranya elit PDI-Perjuangan Maluku sensifif, maka semestinya mereka tidak berpolemik di media massa. Tapi menggalang kesadaran internal untuk perbaikan.

“Saya pikir Samson Atapary atau Benhur Watubun jika diberi kepercayaan menjadi Ketua DPRD Provinsi Maluku, performa kepemimpinan ketua DPRD bisa diperbaiki,” ujar Bito.

“Sekiranya Poly Kastanya menjadi alternatif PAW, suasana sumpek bisa diakhiri. Jika saja Andre Taborat jadi alternatif PAW, mungkin bisa mengimbangi dominasi peran Anos Yermias. Tapi kalau suasana sumpek seperti ini terus berlangsung mengapa uring-uringan kalau saya menggunakan konsep metaforik tandingan “tedong” atau kerbau?,” pungkasnya dengan nada tanya. (keket)