Masih dari sumber yang sama, mencium dan memeluk suami atau istri saat berpuasa termasuk tindakan yang menunjukkan kasih sayang dan bukan syahwat. Hal ini diperbolehkan sebagaimana merujuk pada hadits dari Aisyah RA, dia berkata:
“Rasulullah SAW pernah menciumku padahal beliau dalam keadaan puasa. Beliau pun pernah menggauliku padahal beliau dalam keadaan puasa. Akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan dirinya.” (HR Muslim)
Diterangkan dalam Mausu’ah Al Mar’atul Muslimah tulisan Haya binti Mubarak Al Barik terjemahan Amir Hamzah Fachrudin, dasar dari pengibaratan tersebut merujuk pada hadits dari Umar RA.
“Saya bermesraan pada suatu hari dengan istri saya lalu menciumnya, sedangkan saya puasa. Karena itu saya datang bertanya kepada Nabi SAW. Kata saya, ‘Saya telah melakukan dosa besar hari ini. Saya mencium istri, padahal saya puasa. Bagaimana itu?’ Jawab Rasulullah SAW, ‘Bagaimana seandainya engkau berkumur-kumur dengan air sedangkan engkau puasa?’ Jawab saya, ‘Yang demikian tidak mengapa.’ Sabda Rasulullah SAW, ‘Mengapa engkau bertanya lagi (tentang hukum berciuman).” (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Dengan begitu, dapat disimpulkan sah-sah saja bermesraan bagi suami istri dalam keadaan berpuasa. Asalkan tidak dibarengi dengan syahwat yang mengarah pada perbuatan jima’ atau hubungan intim.










