Budaya Kei Hampir Terkikis Abis, Hanubun Perlu Upaya Pelestarian

oleh -23 views
Link Banner

Porostimur.com | Langgur: Adat dan budaya adalah aset sebuah daerah, karena itu perlu dilestarikan. Adat dan budaya adalah kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Peryataan ini disampaikan Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun dalam sambutannya saat membuka kegiatan peringatan hari Nen Dit Sak Mas di Ohoi Samawi, Rabu (2/9/2021).

Hadir dalam perayaan tersebut, Forum Komunikasi Daerah, Ketua Tim Penggerak PKk, Ketua Darma Wanita, OPD, para Camat, Kepala Ohoi serta peserta lomba yang terdiri dari siswa siswi SMA, Aliyah yang sederajat.

Hanubun menegaskan, saat ini budaya Kei merupakan suatu kearifan lokal yang perlu dilestarikan, karena banyak yang tidak tahu dan melupakan sehingga lambat laun terkikis habis oleh zaman itu sendiri.

Banyak yang hadir pada kegiatan tersebut, namun sedikit yang mengetahui nama mata lomba seperti Ngel Ngel, Wawar dan Savargil yang di perlombakan saat ini, karena sebutan ini masih dalam bahasa Kei Asli.

“Nen Dit Sak Mas, adalah seorang perempuan, yang merupakan simbol sekaligus memperjuangkan derajat kaum perempuan Kei hingga saat ini, yang dikenal dengan kesetaraan gender,” ungkap Hanubun.

Baca Juga  Dua Minggu Gangguan Jaringan Internet, Pengusaha Warkop di Kepsul Rugi Jutaan Rupiah

“Nen Dit, adalah prakarsa lahirnya peranan Kei, dimana beliau bersama saudaranya menetapkan hukum yang dipergunakan sampai saat ini dengan sebutan Hukum Lar Vul Ngabal, yang ditanam di Wama (pusaran) Siryan Siryen Amarin Loor yang berlokasi di Ohoi Elar,” sambungnya.

Hanubun mengatakan, dalam sejarahnya, Nen Dit Sak Mas dilahirkan di Letvuan, tepatnya di sebuah selat yang dikenal dengan sebutan Hoat Sorbay.

“Hoat Sorbay adalah sebutan dalam bahasa Kei, akan tetapi kalau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Selat Surabaya, dan konon sejarah Nen Dit Sak Mas adalah turun dari pulau Dewata Bali,” ucap Hanubun.

Hal ini yang ditandai dengan Lambang Lar Vul Ngabal yaitu Nga Bal, (Nga itu tombak, Bal itu dari Bali, yang hingga kini digunakan sebagai lambang Adat Kai.

Baca Juga  Bupati Malra Hadiri Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2021

Hanubun menegaskan, rejeki, jodoh dan kematian semua dalam tangan Tuhan, akan tetapi sebagai orang berbudaya tentu kita harus mengenang dan menginat jasa para pendahulu yang telah meletakan dasar Adat di bumi Kei ini.

Disisi lain, peringatan Nen Dit ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada orang luar bahwa kita orang Kei juga punya kearifan lokal yang patut kita budayakan dan lestarikan.

“Kebiasaan kita, terkadang cepat terpengaruh dengan hal baru sehingga melupakan budaya kita yang lama,” ujarnya.

Tujuan dari peringatan ini semata mata menunjuka bahwa Net Dit yang asli telah meninggal, akan tetapi Nen Dit Nen Dit mudah masih mewarisi budaya yang di tanamkan untuk anak cucu generasi sekarang.

Baca Juga  Jakarta PSBB Lagi, JMSI Tunda Pelantikan Pengurus Pusat

Hanubun mengapresiasi para Siswa Siswi, bahkan dirinya (red) berharap kelak jika suatu saat nanti kalian akan menjadi Agen perubahan,sekaligus Tokoh untuk meneruskan budaya yang telah di wariskan Nen Dit, sehingga budaya ini tetap lestari sepanjang zaman. (saad)

No More Posts Available.

No more pages to load.